We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future

Tinta,
Tumpah ruah di meja
Meja kosong tanpa kertas
Yang ada hanya gelas

Kopi,
Tumpah ruah di kepala
Kepala kosong tanpa utas
Yang ada hanya getas

Menulis. Sudah lama tidak menulis. Maksudku … menuliskan isi kepala menggunakan bahasa manusia. Sudah hampir setahun ini belajar menuliskan isi kepala menggunakan bahasa perantara untuk memerintah mesin. Sebab itu, untuk berbahasa manusia kembali kemungkinan sedikit sulit.

Barangkali tidak akan seperti kemampuan naik sepeda, yang apabila kita sudah lama tidak melakukannya maka kemampuan itu tiba-tiba saja datang kembali ketika kita mencoba naik sepeda lagi; seolah-olah segala macam lecet di lutut dan robek di celana ketika belajar naik sepeda dulu … menjadi nyata kembali.

Setelah tiga puluh tahun hidup di dunia fana, barulah aku menyadari arti penghiburan dari dekatnya keberadaan orang lain secara fisik. Dulu kupikir ketika kita baru saja kehilangan, kita menginginkan kesendirian untuk sementara waktu: barangkali untuk meresapi kesedihan, menguatkan diri sendiri secara mandiri, atau untuk sekadar bernostalgia tanpa perlu diganggu.

Makanya dulu ketika ada kawan yang baru saja kehilangan anggota keluarganya, kukira akan sangat merepotkan baginya manakala banyak orang secara bergantian datang ke rumahnya untuk sekadar bertamu dan berucap turut berbelasungkawa. Ketika ayahku meninggal dunia, barulah kusadari bahwa ternyata dalam kondisi semacam itu manusia butuh didatangi manusia-manusia lain secara fisik: sebagai penguat, penghibur, atau sekadar pengalihan isu sejenak di kala berduka.

Setelah lewat tiga dasawarsa ini pula, barulah kusadari bahwa secara hakiki kita tidak akan pernah hidup di masa depan. Masa depan hanyalah bayangan yang tertangkap teropong. Itulah mengapa terkadang masa depan begitu samar, begitu kabur, begitu saru; yaitu bilamana kita salah memasang lensa. Terkadang pula masa depan terlihat begitu jelas dan terang; yaitu bilamana teropong baru saja kita bersihkan.

Kita selalu hidup pada saat ini: masa sekarang. Kan? Maka janganlah pernah berusaha menjauh dengan manusia lain. Demi selalu melihat masa depan yang cerah, perbanyaklah manusia-manusia di dekat kita. Siapa tahu kita sedang lelah atau terlalu sibuk untuk mengelap lensa, manusia-manusia lain inilah yang kiranya bersedia membantu.

if ( manusiaLain > 0 )
    terhibur = true;

2 pemikiran pada “We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s