Menceritakan Non-fiksi: Istri Tertawa, Suami Merana

Hari saat itu cerah dengan sedikit berawan hingga tibalah bagiku untuk naik pesawat. Aku duduk dengan bagian depanku terasa lapang hingga kusadari aku mendapatkan bangku di deretan jendela darurat. Tak lama setelah itu datanglah sepasang suami-istri kawakan yang ternyata adalah kawan sebangkuku.

Sang suami mulai memasukkan beberapa tas ke dalam kompartemen bagasi di atas kepalaku sementara si istri sudah melewatiku untuk kemudian duduk di sebelah jendela. Si istri lantas meminta suaminya untuk menyerahkan satu buah tas tangan yang cukup besar dan satu buah tas plastik yang lebih besar lagi. Sembari melewatiku dan duduk di antara aku dan istrinya, sang suami melakukan apa yang diperintahkan si istri.

Adalah sang suami yang terkejut tentang betapa luasnya ruang di hadapan kami yang dengan ramah kujelaskan bahwa kami duduk di samping jendela darurat dan ruang yang cukup lapang memang diperlukan dalam keadaan darurat. Aku pun juga menjelaskan betapa dilarangnya meletakkan benda semisal tas tangan dan tas plastik pada ruang yang dikhususkan untuk dilewati orang-orang pada keadaan darurat itu, karena akan mengganggu penyelamatan, sekali lagi, dalam keadaan darurat.

Sang suami dengan santainya membalas ucapanku dengan berkata bahwa tidaklah mengapa karena tas-tas istrinya dapat dimasukkan ke bawah kursi di depannya. Ia berkata begitu sembari menginstruksikan kepada istrinya untuk mendorong tas-tas yang dimaksud ke bawah kolong kursi di depannya yang langsung dikerjakan oleh si istri dengan penuh cekatan. Aku yang sudah cukup sibuk dengan urusanku sendiri yaitu membaca buku berbahasa inggris (yang judulnya tidak begitu penting) yang kubeli kemarinnya hanya bisa membalas dengan sebuah senyuman miris.

Langit barangkali mulai melebatkan awannya pada waktu itu. Atau malah semakin cerah; aku tidak tahu karena aku sudah cukup sibuk dengan urusanku sendiri sehingga tidak kutengok langit dari jendela. Pun tidak kuperhatikan beberapa pramugari dan pramugara memeragakan penggunaan alat-alat keselamatan di koridor kabin sehingga setelah selesai melaksanakan tugasnya tersebut salah seorang pramugari menghampiri deretan bangku kami dan berkata kepada ibu pemilik tas-tas yang nantinya dimaksud sambil menuding tas-tas tersebut bahwa tidak diperkenankan tas-tas itu berada di situ.

Mendengar hal demikian, langsung saja bapak di sebelahku yang adalah pula suami si ibu pemilik tas langsung saja berkomentar kepada istrinya bahwa si istri tetap saja membandel meski sebelumnya sudah diperingatkan oleh suaminya sendiri bahwa tidak boleh ada tas di samping jendela darurat.

“Tuh kan, Ma, kan tadi udah Papa bilang gak boleh naruh tas di situ. Bandel sih dibilangin juga.”

Tiba-tiba meledaklah sebuah tawa dari seseorang seraya ia mengatakan bahwa sang suami di dalam kisah tadi memiliki beberapa kemiripan dengan seseorang. Tak lain adalah istriku seorang yang tertawa dan mengatakan hal itu ketika aku menceritakan kisah yang baru saja kualami itu. Istriku yang menjemputku di bandara itu lalu mengatakan bahwa kelakuan sang suami tadi mirip dengan kelakuan suaminya yang sering tiba-tiba menyalahkan istrinya padahal dianya sendiri pun demikian salah.

Maka pada sore itu aku mendapatkan sebuah pelajaran bahwa hendaklah memikirkan terlebih dahulu ketika hendak menceritakan sebuah pengalaman karena apabila ada nama-nama dan kejadian yang mirip pastikan bahwa itu merupakan kebetulan belaka.

4 pemikiran pada “Menceritakan Non-fiksi: Istri Tertawa, Suami Merana

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s