31 Desember 26 Tahun Lalu

“It’s gonna be tough to say goodbye. It always is. Nobody loves change. But, part of life is learning to let things go.” – Phil Dunphy (Modern Family S02E01)

Dulu, sering aku merasa gundah setiap kali bulan mati. Dengan demikian barangkali bolehlah aku kalian sebut lunatik. Pun begitu setiap kali akan masuk bulan Februari.

Tetapi dua tahun belakangan ini berbeda, Saudara. Aku menjadi gundah setiap kali purnama dan juga setiap bulan Mei dan Desember berakhir. Sesuai dengan kutipan tadi, aku tak suka dengan perubahan ini. Karena berarti hari ini aku akan gundah dan beberapa hari lagi aku akan kembali gundah.

“If you think back and replay your year, if it doesn’t bring you tears either of joy or sadness, consider the year wasted.”

Kutipan di atas diucapkan oleh John Cage, mengutip perkataan ibunya, kepada Ally pada serial Ally McBeal S01E23. Baru bulan ini aku menonton seri ini. Telat, ya? Ternyata mengasyikkan, meski terlalu feminis barangkali.

Kontes yang diadakan Om nh18 kemarin bikin aku ngubek-ngubek tulisanku setahunan di blog ini; membuatku mengenang kejadian-kejadian yang kualami dalam setahun ini. Tahun ini kuakui memang tidak banyak aku menulis di blog seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga tidak banyak pula kejadian yang secara implisit maupun eksplisit tercatat di sini. Tetapi setelah kubaca pula jurnal yang kutulis tangan \ya, untuk pertama kalinya aku berhasil menulis jurnal selama setahun penuh\ aku bersyukur. Mengapa?

Karena ternyata aku bisa meneteskan air mata mengenang bahagia sekaligus derita. Bahwa ternyata dalam setahun ini aku telah bersedih dan telah pula bersenang diri. Dengan begini tahunku ini tidak terlewati dengan sia-sia. Semoga.

Tahun ini barangkali menjadi tahun perpisahanku dengan apa yang bertahun-tahun lalu belum berani kulakukan. Jadi bisa dikatakan pula tahun ini adalah titik balik keberanian dan keberhasilanku menaklukkan kepengecutan diri sendiri.

Tahun depan, yang akan diawali pada esok hari, akan menjadi mula yang baru bagiku. Tak perlu kucantumkan resolusi maupun resonansi, yang jelas tahun depan aku harus menjadi aku yang baru. Tak akan lagi gundah setiap kali Mei atau Desember berakhir. Tak perlu lagi gundah musiman. Kek kawin aja pakai musiman, pan?

Seharusnya kucukupkan tulisan ini sampai di sini. Akan tetapi karena aku tidak bisa tidur, atau lebih tepatnya tidak ingin tertidur guna menghindari risiko mengalami mimpi buruk, akan kulanjutkan saja.

Langit mendung, angin bertiup membawa dingin. Anjing menggonggong karena diganggu kucing. Akhirnya aku mendapatkan salinan albumnya Shila Amzah. Sekarang yang sedang kudengarkan adalah lagu yang berjudul “Masih Aku Cinta”. Buset dah, cocok sekali dengan suasana dini hari penuh gundah begini. Liriknya itu loh, aduhai…

“Jauh di dalam sanubari ku – Tak ku relakan pemergianmu
Namun ku kan selalu doakan mu – Agar kau takkan terus terluka

Yang mengenal mu cuma aku – Tidak ku menyesal mencintaimu
Yang ku harapkan – Kau juga mendoakan ku”

Tetapi tentu saja nomor termanis adalah lagu bertajuk “Maaf” (maaf maaf maaf… ♪) 😀

Sekian.

4 pemikiran pada “31 Desember 26 Tahun Lalu

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s