Nasi Goreng Hujan

Aku telah berjalan kaki selama lebih dari tiga puluh menit. Selama itu pula aku berjalan menerobosi rinai gerimis dengan bertamengkan payung kecil; payung bermotif kotak-kotak berwarna dominan biru yang kubeli di Stasiun Bogor beberapa tahun lalu.

Apabila kecepatanku dalam berjalan adalah rata-rata 1,2 meter per detik — atau itu berarti 4,32 kilometer per jam — maka kurang lebih aku telah berjalan sepanjang kira-kira 2 kilometer lebih.

Dalam jarak sepanjang itu dan waktu tempuh selama itu, motivasi yang menjadikan tubuhku rela untuk berhujan-hujan adalah demi mendapatkan sebungkus nasi goreng ayam. Sepanjang jalan yang kulewati itu seharusnya terdapat hampir sepuluh penjual nasi goreng ayam yang kuidamkan sejak pagi ini tersebut.

Sebagian besar dari tempat yang biasanya dipakai sebagai pangkalan bagi penjual nasi goreng tidak tampak tanda-tanda wajan berdenting dengan spatula atau aroma semerbak bumbu yang sebagian besar terdiri atas bawang-bawangan dan juga cabai merah atau antrean pembeli yang biasanya membludak atau sekadar penjual nasi goreng yang berdiri atau duduk. Kalau pun ada salah satu tanda berupa terdapatnya sesosok penjual nasi goreng, itu pun mengaku tidak sanggup memenuhi pesananku dengan berbagai alasan, antara lain tabung gasnya kosong dan belum membeli yang baru dan nasi putihnya belum sampai diantarkan ke tempat tersebut.

Maka mirisnya nasib ini hingga bahkan selama tiga puluh menit dan sepanjang dua kilometer ini aku tidak mendapati nasi goreng yang kuidamkan. Adakah sebuah jalan keluar?

7 pemikiran pada “Nasi Goreng Hujan

  1. sedikit koreksi boleeh๐Ÿ˜€
    dalam paragraf ke3, kata terakhir “TERSEBUT” lebih enak dihilangkan hehe๐Ÿ˜€
    dan kata “SPATULA” hemm kayanya sodet lebih dimengerti banyak orang indo deh hehe๐Ÿ˜€

    dan 1 lagi, kalau mau makan nasgor pas ujan, main aja kang ke Depok๐Ÿ˜€ tukangnya lebih seneng dagang pas ujan hehe

    Suka

    1. Seharusnya “…tadi tersebut…”, tetapi agar lebih nyentrik, barangkali, jadilah “…ini tersebut…”.

      Maklum lah ya, ini ngetiknya pakai ponsel layar jawil, sambil jalan kaki di pinggiran jalan pun, sambil sesekali nyerempet motor dan semak-semak, sambil tiga-empat kali nyaris jatoh kesandung kerikil raksasa.๐Ÿ˜€

      Pakai “spatula”, karena biar lebih dengan dengan Spongebob.

      Depok adalah masa lampau, katanya, barangkali, jadi kalau ke sana harus moon walking sehingga berisiko tinggi buat jatoh atau ketabrak mobil. :p

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s