Maaf, Atas Buruknya Kebiasaan

Baru-baru ini terlaku lagi salah satu kebiasaan buruk yang sudah lama kuperangi.

Adalah aku yang apabila bertemu secara tidak terduga dan sengaja dengan orang yang kukenal, apalagi yang sudah lama tidak berjumpa sehingga pertemuan tersebut termasuk mengejutkan, akan melakukan tindakan yang barangkali boleh dikatakan kasar bagi yang kurang mengenaliku: mengagetkan balik atas kemunculannya yang tiba-tiba di hadapanku dengan cara misalnya menendang kakinya, memukul bahunya, atau bahkan menggetok kepalanya dengan benda apapun yang sedang kupegang ketika kejadian mengejutkan tersebut berlangsung.

Kebiasaan, atau barangkali bisa dikatakan refleks, buruk ini barangkali bisa ditarik lini masanya ketika aku masih SMA dengan penular utamanya yaitu seorang yang bernama Roki. Dia adalah orang yang kalau hidup sampai pada zaman sekarang ini barangkali akan dituduh menderita bipolar hanya karena kelainan ini sedang popular padahal sama sekali ia tidak. Semoga ia tenang dan damai di alam sana.

Kebiasaan burukku ini telah pun banyak memakan korban. Yang paling parah adalah ketika aku secara refleks mendorong seseorang sehingga jatuh dari ketinggian enam belas anak tangga. Sejak saat itulah aku menyadari bahwa kelakuan semacam itu harus kuperangi dengan gencar.

Inilah salah satu alasan mengapa aku meminta orang-orang di dekatku untuk tidak memberikanku kejutan dalam bentuk apapun. Yaitu tak lain karena kebiasaan buruk semacam ini belum tuntas kubasmi.

Aku sungguh menyesali, terutama untuk kejadian yang baru-baru ini, terlebih karena barangkali si korban tidak ingin bertemu denganku lagi. Dari lubuk hati terdalam aku sangat menyesal dan meminta maaf secara tulus kepadanya terlebih karena tidak langsung menyadari atas kesalahanku mengagetkannya "kembali" dengan cara menggetok kepalanya itu dengan mainan. Barulah beberapa jam setelahnya aku sadar bahwa kekagetannya itu bukanlah karena secara tak terduga bertemu denganku melainkan lebih karena apa yang barangkali bisa dituduhkan mengasarinya secara lahir dan barangkali pula secara batin.

Dengan ini aku kembali bertekad dengan kuat untuk memerangi kebiasaan buruk membahayakan ini. Mohon bagi yang berada di dekatku untuk selalu mengingatkanku dan sebisa mungkin mencegahku apabila kejadian yang sama kemungkinan akan kembali terulang. Bagi yang sudah mengenaliku akan kebiasaan buruk yang kuderita ini, mohon ampunan dan makluman jikalau barangkali \semoga tidak terjadi\ di masa yang akan datang menjadi korban.

Sekian.

2 pemikiran pada “Maaf, Atas Buruknya Kebiasaan

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s