Sesal Tiada Gondrong

Manusia itu makhluk visual yang aneh. Kan? Fenomena ini baru-baru ini aku alami, Saudara.

Tentulah kalian sudah tahu dari postingan Can’t Stand Me kalau aku sudah memangkas rambut gondrongku. Pujian pun berdatangan. Tentu sudah banyak yang mengatakan bahwa aku tampan. Ketika masih gondrong kemarin, satu demi satu dari mereka ini yang mengundurkan diri. Akan tetapi demi hilangnya rambut gondrongku ini, malah bertambah lagi orang-orang yang mengutarakan ketampananku itu.

Aku tetaplah aku, bilamana pun rupa rambutku. Kegondrongan tidaklah mengubahku menjadi lebih jahat atau lebih baik. Memang hanya mengubahku menjadi lebih keren sedikit, tetapi itu pun tidak semua orang bersepakat.

Sesal tiada gondrong
Sesal tiada gondrong

Aku menyengaja untuk memperlama masa kegondronganku kemarin agar tercipta citra gondrong di mata masyarakat. Setelah kurasa cukup lama kuendapkan citra tersebut, maka aku pun memutuskan untuk mengakhirinya agar bisa kulihat bagaimana sesungguhnya perilaku manusia visual terhadap perubahan citraku yang drastis ini.

Dan ternyata tanggapan yang kudapatkan pun semuanya positif. Barangkali ada dua atau tiga orang yang sedikit menyesalkan aku mengakhiri masa kegondronganku itu. Akan tetapi bahkan mereka itu pun termasuk orang-orang yang kembali mengakui ketampananku.

Masalah adalah yang lagi-lagi datang, Saudara. Beberapa hari belakangan ini aku merasa sangat menyesal telah melakukannya: mengakhiri masa kegondronganku.

Semenjak tiga-empat hari lalu, barangkali, cuaca Jakarta mulai mendingin. Malam begitu dingin, sehingga kamar tidur dan kamar mandi serasa kulkas. Tentu karena aku adalah orangnya yang rajin mandi, maka hal itu tidak menghalangiku untuk mandi pagi minimal sekali sehari. Akan tetapi yang tidak tertahankan bagiku adalah kepalaku sering merasa kedinginan. Ketika masih gondrong, kepalaku senantiasa terjaga kehangatannya dengan sendirinya, tentu saja. Maka sekarang aku pun terpaksa tidur memakai kupluk penutup kepala, dan itu pun tidak melulu berhasil membuatku tertidur.

Lain lagi kemarin sore. Jadi sore kemarin itu cuaca terik sekali. Seperti biasa aku pulang dari kantor dengan berjalan kaki. Matari masih lumayan tinggi di ufuk barat sehingga teriknya tepat mengenai kepalaku bagian kiri. Panas sekali rasanya, Saudara. Hampir-hampir aku membuka payung untuk menghalangi sengatan sinar matari ini, akan tetapi kuurungkan niat demi memperoleh gelar lelaki sejati. \Katanya.\

Di tengah banyaknya pujian atas ketampananku dengan rambut baruku, ternyata ada saja kerugian yang kuderita terlepas dari itu. Aku pun mendapatkan pelajaran dari pengamalan ini yaitu tidak akan secara drastis mengubah apa yang ada padaku. Rambut pun tidak tumbuh sehari sepuluh centimeter, kan? Maka berat badan pun tidak harus sebulan turun sepuluh kilogram. Kan?

6 pemikiran pada “Sesal Tiada Gondrong

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s