Otak Si Rambut Panjang

Entahlah. Otakku barangkali sedang bertingkah aneh hari ini. Ia tidak tepat dalam menautkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Seperti misalnya tadi pagi aku meminta dibelikan pisang ambon kepada seorang berbatik ungu. Maka yang kudapatkan adalah tidak hanya enam buah pisang ambon yang ranum melainkan juga setengah porsi mi ayam dan dua bungkus kerupuk. Kusisihkan dua buah pisang untuk kumakan nanti siangnya karena yang selainnya habis pagi itu juga kumakan dan kubagi-bagikan.

Hatta, selesailah aku makan siang. Dari tempat makan itu aku membawa pulang dua buah apel yang cukup matang. Yang satu kuberikan sedangkan yang satunya kumakan. Tidak lupa sebelum kumakan kukuliti terlebih dahulu. Hal inilah yang menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dengan otakku.

Dengan jempol dan telunjuk aku mencoba menguliti si apel. Tentu saja hal tersebut tidak berhasil. Lantas kuletakkan apel itu di atas meja dan kuambillah satu buah pisang ambon yang kusisihkan tadi pagi dari atas meja. Dengan saksama aku langsung angkat si pisang dan ujungnya kumasukkan ke dalam mulut untuk kukunyah demi mendapati bahwa hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Apel kukira pisang dan pisang kukira apel.

Maka malam pun datang. Aku pun duduk di dalam sebuah warung tenda pinggir jalan untuk makan. Hingga datanglah duet pengamen langganan. Kali ini membawakan tembang Widuri. Semacam “Widuri… Engkau bagaikan rembulan, oh sayang….”

Tetapi memang ada yang salah dengan otakku hari ini. Yang kupikirkan bukanlah si Widuri atau sang rembulan melainkan Si Rambut Panjang.

Hampir tiga tahun lalu aku pernah memosting tulisan yang berjudul “Tertabrak Kenangan“. Aku pun menjadi dong atau ngeh bahwa lagunya Koes Bersaudara yang berjudul “Si Rambut Panjang” itu hanya terdiri atas satu satu buah bait tersebut. Dulu aku pikir lagu tersebut mengisahkan cerita seram tentang seorang monster atau siluman. Bahwa si monster ini punya rambut yang panjang dan dia suka merayu dengan kata-kata manis untuk menjerat mangsanya.

Barangkali memang bukan hari ini saja otakku bermasalah, ya kan? Haha. Tetapi sungguh, waktu kecil aku memikirkan suasana malam yang gelap remang-remang. Di pinggir telaga. Ada sesosok monster bermulut manis berhati busuk.

Ternyata syair lirik tersebut hanyalah semacam pantun nasihat.

Malam remang, malam remang penyebar sayang
Lampu kecil, lampu kecil disangka bintang
Oh jangan percaya kisah kasih si rambut panjang, sayang
Manis di bibirnya, di dalam hati lain hatinya

Sampai sekarang aku pun masih bingung akan apa yang dimaksudkan Koes Bersaudara ini dengan “si rambut panjang”. Apakah wanita? Ataukah pria? Karena sekarang aku pun punya rambut panjang.πŸ˜›

6 pemikiran pada “Otak Si Rambut Panjang

    1. Intinya kemarin itu otak sedang bermasalah. Apel dikira pisang, pisang disangka apel. Dengar lagu Widuri malah keinget lagu Si Rambut Panjang. Semacam itulah ringkasnya.

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s