Balada Bulan Lingkaran Penuh

Plak!

Sungguh sial. Aku sudah mandi sore tadi. Tak lupa pula aku menyemprotkan pewangi. Tetapi nyamuk-nyamuk liar ini sungguh tak tahu diri. Tidak adakah sasaran empuk lainnya selain aku?

Aku pikir-pikir tak ada salahnya juga nyamuk-nyamuk ini. Hanya aku manusia satu-satunya di semak-semak sini. Barangkali akulah yang salah karena lupa mengoleskan losion antinyamuk di segenap badanku.

Pada saat jongkok dalam kegelapan begini entah mengapa aku teringat akan masa kecilku. Kalau malam purnama seperti sekarang ini, sudah pasti aku berada di halaman, bermain bersama teman-teman. Entah itu berlari-larian, atau menyanyi bersama.

Aku ingat pernah bersama-sama menyanyikan lagu “Ambilkan Bulan Bu”. Waktu itu kami naik ke atas pohon jambu dan duduk di dahannya. Sambil memandang bulan dan makan buah jambu air yang ranum kamu pun meneriakkan:

Ambilkan bulan, Bu, yang selalu bersinar di langit. Di langit bulan benderang, cahayanya sampai ke bintang. Ambilkan bulan, Bu, untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap.

Lalu sekarang, sambil garuk-garuk kegatalan aku memikirkan lirik lagu itu. Betapa terdapat banyak kesalahan ilmiah terdapat di situ. Tentu bahkan anak-anak kecil akan tahu bahwa bulan tidak selalu bersinar di langit. Ada kalanya bulan mati, yaitu ketika tanggal muda atau tua. Atau ketika ia demam, maka bulan masuk ke dalam selimut awan. Atau bahkan pindah ke bumi, yaitu ke kepala orang botak yang disinari lampu neon.

Bahkan anak-anak kecil yang sudah duduk di bangku SD pun akan tahu bahwa cahaya bintanglah yang justru sampai ke bulan, bukan sebaliknya. Dan bahkan anak-anak yang sedang berkemah pun akan tahu kalau cahaya bulan tidak bisa menerangi tidurnya karena terhalang oleh tenda.

Entah apa maksudnya pencipta-pencipta lagu anak-anak itu. Banyak syair-syairnya yang tidak masuk akal, yang cenderung menipu anak-anak, membiasakannya untuk bermimpi bahkan di siang bolong. Seperti di lagu “Bintang Kecil”, menyerukan anak-anak untuk bermimpi bsa terbang ke bintang. Bukankah bintang itu panas? Untung aku tidak pernah termakan oleh cerita-cerita konyol tidak masuk akal seperti itu.

Ah, sudahlah cukup memikirkan itu semua. Sekarang aku harusnya fokus pada pekerjaanku sekarang. Jangan lagi aku ketiduran seperti bulan lalu, sehingga para bidadari khayangan itu sudah selesai mandi dan terbang kembali ke khayangan begitu aku bangun.

7 pemikiran pada “Balada Bulan Lingkaran Penuh

  1. ckckck jadi menganalisa maksud lagu bisa dilakukan sambil berjongkok di semak-semak dan menanti bidadari ya? hohoho khayalan absurd tapi oke banget nih.. patut dicontoh untu dilakukan saat purnama selanjutnya ki hehehe

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s