Penanda

Aku sering memosting tulisan di sini sekadar penanda waktu akan suatu kejadian yang patut kukenang dalam perjalanan panjang hidupku. Semacam kunci mnemonik begitu, lah. Nah, sesuai judul, postingan ini adalah pula sebagai penanda kejadian penting yang kualami hari ini.

Sepulang dari kantor, dengan menenteng dua tas berisi dua laptop dan dua hati, aku rela berjalan cukup jauh untuk menjumpai ibu ini karena sudah beberapa hari ini aku ngidam menyesap sari buah si ibu. Biasanya aku melakukan kesalahan dengan mengatakan kepadanya aku menghendaki bebeg padahal aku ingin serut. Tetapi sore tadi aku berhasil mengatakan bahwa aku ingin rujak serutnya.

Aku sengaja memalingkan pandangan sehingga tidak kuamati si ibu melakukan apa terhadap buahnya. Aku tahu banyak sekali lalat liar merubungi buahnya dan aku sangat tahu bahwa lalat adalah penyebar penyakit. Akan tetapi demi kepentinganku, aku menjejalkan kepada pikiranku bahwa buah si ibu tiada memiliki benih penyakit sedikit pun.

Aku tahu sejak saat itu, persis sore tadi itu ketika si ibu membelakangiku selagi mengerjakan tugasnya, bahwa aku salah menjejalkan pemikiran semacam itu. Dan ternyata memang terbukti pada saat ini, ketika aku duduk membelakangi tangki putih tanpa kukenakan celana barang sehelai pun.

5 pemikiran pada “Penanda

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s