In Bruges

Ken: Coming up?
Ray: What’s up there?
Ken: The view.
Ray: The view of what? The view of down here? I can see that from down here.
Ken: Ray, you are about the worst tourist in the whole world.
Ray: Ken, I grew up in Dublin. I love Dublin. If I grew up on a farm, and was retarded, Bruges might impress me but I didn’t, so it doesn’t.

Pada suatu hari, dua orang pembunuh bayaran asal London dikirim oleh bosnya ke Brugge (Bruges), Belgia, untuk bersembunyi. Mereka disuruh untuk diam di kota itu selama dua pekan. Dua orang itu adalah Ken dan Ray, sementara bosnya bernama Harry.

Harry kemudian menelepon dan memerintahkan Ken untuk membunuh Ray karena telah \semacam\ melanggar kode etik mereka, yaitu membunuh anak kecil meskipun secara tidak sengaja. Harry mengatakan bahwa Brugge adalah kota yang indah; bagaikan di dalam dongeng. Dia pernah ke kota itu pada masa kecilnya dan ingin sekali lagi ke sana sebelum dia meninggal dunia.

Rupa-rupanya Harry menyuruh mereka ke kota Brugge tak lain tak bukan adalah agar Ray merasa senang sebelum dia mati. Ironisnya, Ken sependapat dengan Harry bahwa Brugge adalah kota yang indah bagaikan di dalam dongeng, tetapi Ray tidak.

Kira-kira semacam itulah alur pertama film “In Bruges“, Saudara. Beberapa tahun lalu aku sempat menonton film ini, tetapi tidak sampai dengan tamat. Karena apa? Karena aku rasa film ini di bagian awal memberi kesan sendu dan menyedihkan. Barangkali karena musik latarnya yang demikian adanya.

Kemarin aku menonton kembali film ini, dan aku khatamkan sampai tamat. Aku baru merasakan adanya ketertarikan akan film ini. Betapa ceritanya sungguh lucu, dialog-dialognya sungguh komedi. Semisal dialog pada awal tulisan ini. Lucu, bukan? Karena memang ini adalah film black comedy, maka kelucuannya tidak sampai membuat kita tertawa terbahak-bahak \meski ada satu dialog yang berhasil membuatku terbahak-bahak\.

Ternyata film ini mendapatkan banyak sambutan positif. Dan aku pikir memang film ini sungguh bagus. Aksen para pemeran yang lucu khas orang Inggris, humor rasialisme, karakter tokohnya yang konyol, penggambaran surga-purgatori-neraka, pemandangan kota yang menakjubkan, cerita yang mengalir, drama yang menyentuh, kesemuanya bercampur dengan kental sehingga menjadi seperti kopi hitam tubrukku sekarang.

Bagaimana? Sudahkah kalian menonton film ini? Apa tanggapan kalian?

8 pemikiran pada “In Bruges

    1. Kultur background? Maksudnya?

      Latarnya ada di Brugge, Belgia. Bagus kotanya. Ada sungainya gitu. Gedung-gedungnya pun kuno dan antik. Oleh UNESCO kota ini dijadikan sebagai salah satu warisan dunia, lho.

      Suka

        1. Tempatnya di Brugge, Belgia. Bahasanya sih linggis ala British gitu lah, keknya. Tapi di situ ada orang Amerika pula, ada orang Kanada. Kerenlah pokoknya. Musti nonton kamu.

          Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s