Anomali

Di dunia ini ada banyak makhluk aneh, yang karena keanehannya, maka terciptalah istilah anomali. Coba mari kita renungkan:
Ayam adalah omnivora, karena mereka bisa menyantap segala makanan, mulai butiran beras, daun pisang, pasir, cacing, bahkan daging bangsanya sendiri. Manusia, adalah pula omnivora, sama seperti halnya ayam. Kita bisa menyantap butiran beras, daun pisang, pasir, cacing, dan bahkan beraneka rupa kue basah. Tetapi manusia yang menyantap daging manusia lainnya dikatakan sebagai sebuah anomali. Manusia semacam itu akan dicap sebagai kanibal yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Lazimnya memang begitu.

Di era pemanasan global ini ada pula ayam yang beranomali dengan menjadi herbivora tulen. Mereka hanya menyantap biji-bijian, dedaunan, dan sesekali kerikil atau pasir. Tetapi begitupun tetap digolongkan sebagai herbivora, karena mereka tidak makan daging. Ayam inilah cikal bakal dari apa yang sekarang disebut sebagai ayam organik. Ayam yang semacam ini konon dihargai lebih tinggi di kalangan manusia dibandingkan dengan ayam-ayam “normal”. Tetapi sempat berpikirkah kita, para manusia, bahwa ayam anomali ini dicap sebagai golongan aneh dan dijauhi di kalangan ayam itu sendiri?

Tentu kita tidak menampik kenyataan bahwa fenomena semacam ini pun ada di kalangan manusia. Semakin banyak saja manusia yang organik semacam itu. Mereka hanya mau menyantap produk-produk nabati yang suci. Bukankah ini pula sebuah anomali? Tetapi khusus anomali yang ini, entah mengapa kita para manusia menganggap mereka yang herbivora organik ini jauh lebih terhormat dibandingkan dengan manusia kanibal.

Mari kita sejenak mengalihkan pembicaraan ke dunia nabati alias flora. Di dunia ini ada beraneka rupa jenis tumbuhan. Ada yang dengan mudah kita identifikasikan sebagai tumbuhan karena wujud fisiknya, tetapi ternyata ada jauh lebih banyak aneka tumbuhan yang karena wujud fisiknya “seharusnya” tidak bisa dikatakan anggota flora.

Tumbuhan itu memiliki organ-organ yang secara proporsional membentuk dirinya. Ada akar, yang tidak lebih besar dari batangnya, dan batang, yang selalu lebih besar daripada rantingnya, serta daun-daun, yang menambahkan nilai estetis dalam perwujudan tumbuhan. Tetapi lagi-lagi terdapatlah anomali. Ada yang disebut tumbuhan tetapi daunnya kecil sekali hingga menyerupai jarum tetapi memiliki batang yang jauh lebih besar. Ada pula yang daunnya adalah sebagian besar dari wujud fisiknya.

Kebanyakan anomali ini ada karena kehendak alam. Tetapi ternyata ada pula manusia yang sengaja membuat tumbuhan menjadi anomali. Sialnya, anomali buatan ini ternyata memiliki nilai yang jauh lebih tinggi. Sebutlah saja bonsai. Manusia akan membayar dengan harga yang mahal untuk mendapatkan satu pot pohon melati tua yang mini–yang meskipun kecil tetapi tetap dapat berbunga dan mengeluarkan aroma khasnya–sehingga bisa ditaruhnya di atas meja ruang tamu.

Anomali lainnya adalah semisal tumbuhan pemakan hewan. Tentu hal ini sama anomalinya dengan ayam herbivora yang telah kita bahas tadi, karena seperti yang sewajarnya tumbuhan memakan zat hara dari tanah dan meminum airnya. Ada bahkan satu jenis tumbuhan pemakan hewan yang bahkan dari penamaannya saja sudah merupakan anomali. Tumbuhan pemakan serangga apakah gerangan?

Adalah tumbuhan Kantong Semar yang dari namanya saja sudah merupakan anomali. Bagaimana tidak? Semar, lurah yang hidup di dunia wayang itu, bukanlah seperti Doraemon atau montir yang memiliki kantong. Tumbuhan Kantong Semar dinamakan demikian karena wujud fisiknya yang mirip dengan perwujudan Semar yang berperut besar akibat dulu iseng menelan gunung seutuhnya. Lantas mengapa tumbuhan ini tidak dinamakan saja dengan Perut Semar? Itulah anomalinya.

Betapapun, keanomalian tumbuh-tumbuhan seringkali berguna bagi kehidupan manusia. Kantong Semar konon kabarnya hobi memangsa tikus pengganggu. Kemudian ada juga tumbuhan pemangsa polusi udara semisal pohon mahoni dan trembesi. Ada pula Lidah Mertua alias Sansevieria yang memakan bahan beracun dan bau perabotan rumah tangga. Lalu pohon kelengkeng yang katanya suka mengudapi bebisingan.

Semua tumbuhan berguna tadi beranomali sesuai kehendak alam. Sungguh tidak dapat dibayangkan betapa keanomalian tadi diolah lantas dikembangkan lebih lanjut dengan kekuatan tangan manusia. Maka bisa saja ada tumbuhan anomali yang mampu memakan segala gelombang suara dalam radius tertentu. Tentu akan sangat berguna sekali terutama bagi manusia yang perlu berkonsentrasi dalam keheningan. Kita tinggal mengucapkan suatu kode, lalu tumbuhan ini akan beraksi dan memakan segala bunyi. Bukankah ini hebat?

4 pemikiran pada “Anomali

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s