Puisi Ketimus

Jadi ceritanya aku sedang menganggut-anggut sendiri, membenarkan bahwa sekarang ide-ide sportif kreatif dalam hal berpuisi sudah banyak terkikis dari otak.

Lantas seorang kawan yang tidak perlu kita sebut namanya dan tunjuk batang hidungnya pun berkata bahwa menulis (puisi) adalah sebentuk cara untuk meluapkan emosi dan perasaan, dan apabila tidak punya emosi serta perasaan lebih baik tidak menulis (puisi) karena hasilnya akan jelek.

Karena pada siang tadi perasaanku adalah lapar dan emosi karena kelaparan, jadilah puisi ini:

Puisi ketimus #poem

A photo posted by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Tertulis seribu pesan untukmu
Aku menuliskannya pada daun pisang
Lalu kubungkus dan kukukus
Maka jadilah ketimus

Bagi yang belum tahu makhluk apakah gerangan ketimus itu, silakan penasaran. Seingatku ketimus adalah penganan yang dibungkus oleh daun pisang seperti halnya lemper. Hanya saja ketimus tidak terbuat dari ketan melainkan parutan singkong.

Cara membuatnya aku kira gampang, Saudara. Pertama-tama, carilah terlebih dahulu kebun singkong. Lantas pilih kira-kira mana yang singkongnya sudah matang. Kemudian cabut, ambil singkongnya, bersihkan. Setelah itu kupaslah hingga telanjang. Baru setelah itu singkong bisa diparut menggunakan parutan.

Hasil parutannya kemudian dicampur dengan gula merah, gula pasir, dan bubuk vanili. Berapa takarannya kira-kira? Sesuai dengan selera saja. Kemudian guyur dengan sedikit santan, aduk hingga rata.

Sementara itu, siapkanlah daun pisang sebagai pembungkus ketimus. Seperti biasa, pergilah ke kebun pisang, pilih daun yang sekiranya berwarna hijau agak tua, petiklah seperlunya saja. Ingat ya, jangan ambil daun pisang yang masih menguncup. Ambillah yang sekiranya sudah bisa dipakai sebagai payung pelindung hujan. Kemudian bersihkan daun pisang dari segala macam kotoran.

Kan kalian tidak tahu bahwa terkadang daun pisang dihinggapi pula oleh kawanan burung untuk kemudian berak di atasnya. Setelah bersih, potong-potong sesuai selera. Ingat, kalian sedang memotong daun pisang sebagai pembungkus ketimus. Jadi tidak perlu mempergunakan segala daya kreativitas kalian agar potongannya berbentuk bintang-bintangan atau orang-orangan.

Setelah siap daun pembungkusnya, barulah kalian bisa mengambil adonan parutan singkong tadi secukupnya, kemudian bungkus dengan daun pisang yang sudah disiapkan. Ingat, kalian hanya sedang membungkus adonan dengan daun pisang, bukan sedang origami.

Kemudian kukus bungkusan-bungkusan tadi. Ingat, api tidak boleh terlalu besar karena dapat menghitamkan pantat panci. Tidak boleh juga terlalu kecil karena akan lama ketimusnya matang. Usahakan bahwa api tidak boleh mencapai bungkusan-bungkusan tadi, karena kalian bukan sedang membakar ketimus melainkan mengukusnya.

Sekian dan selamat mencoba.

NB. Sumber resep berasal dari Wikibooks ini.

10 pemikiran pada “Puisi Ketimus

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s