Demam Bertemu Pengeblog

Katanya, setiap bagian dari tubuh kita itu saling bereaksi antara satu dengan lainnya.

Bagi kalian yang penasaran, silakan melakukan sedikit riset ke perpustakaan terdekat dan mencari buku-buku yang mengulas tentang perihal ini. Akan tetapi aku ingin menjelaskan sedikit dari apa yang kuingat saat kulakukan riset sendiri di Perpustakaan Kota Pekalongan sekitar sepuluh tahun lalu. Bahwa katanya, berdasarkan beragam penelitian oleh para ilmuwan \dan orang iseng lainnya\, apabila satu bagian dari tubuh kita terluka–sebut saja misalnya dengkul kita lecet akibat terjatuh dari sepeda motor–maka sensor saraf di sekitar dengkul itu akan langsung melaporkan hal tersebut ke semacam call center di otak \hipotalamus kali, yak?\.

Setelah dilapori hal tersebut, tentu saja pusat sensoris atau apalah namanya akan otomatis menyebarkan berita ini ke bagian-bagian tubuh lainnya agar bereaksi. Misalnya segera saja mulut diperintahkan untuk mengaduh sampai gaduh. Barangkali diperbolehkan pula untuk sedikit berteriak kesakitan. Kemudian jantung pun akan mendramatisasi kejadian ini dengan berdetak lebih kencang dan cepat sehingga oleh sebagian orang luar negeri disebutlah istilah “lap-lapan”.

Kabar pun dengan cepat tersebar, yaitu bahwa si dengkul membutuhkan pertolongan. Maka peredaran darah pun kemudian difokuskan untuk lebih cepat mengenai si dengkul ini. Tentu kalian pun tahu bahwa darah memiliki pula zat-zat penyembuh luka \kecuali tentu saja luka akibat hati yang patah\ semisal antibodi dan selainnya.

Maka apabila ketika luka terinfeksi kuman-kuman–sebut saja misalnya jatuh dari sepeda motornya itu di saluran pembuangan air kotor sehingga dengkul yang lecet tadi tentu saja terkontaminasi oleh kuman-kuman jahat–darah putih pun menggeluti kuman-kuman itu hingga nanahlah akibatnya. Dalam pada itu, barangkali demi menyokong para pendekar darah putih berperang melawan kuman jahat, seluruh bagian tubuh mengiriminya energi.

Misalnya saja perut menyumbangkan sebagian dari lemaknya untuk dipecah menjadi energi dan mengirimkannya ke dengkul. Tak hanya perut, Saudara, bahkan paha, pipi, leher, dan lain-lain pun melakukan hal yang serupa. Maka seluruh tubuh pun mendemam. Dengan begitu maka akan muncul hormon yang namanya mirip gorengan untuk meredakan demam seiring dengan mengirimkan asam amino atau apalah itu untuk “menjahit” lecet di dengkul. Jadi, Saudara, wajarlah bahwa meski hanya dengkul yang terluka tetapi seluruh badan panas-dingin dibuatnya.

Bisa jadi ingatan atau bahkan pemahamanku akan hal ini keliru. Maka kusarankan kalian untuk melakukan riset sendiri di perpustakaan terdekat. Rincian di atas anggap saja sekadar dongeng. Akan tetapi, satu hal yang pasti bahwa apabila satu bagian tubuh terluka dan terinfeksi kuman, seluruh bagian tubuh akan demam demi menyembuhkan bagian tubuh yang terluka tersebut dan melenyapkan peradangan.

Teringatlah aku akan sebuah hadis yang sering didoktrinkan kepadaku mulai beberapa tahun lalu. Kira-kira hadis itu bermaksud begini, Saudara: bahwa hubungan kasih sayang sesama muslim itu laksana satu tubuh, apabila satu bagiannya sakit atau terluka maka seluruh tubuh akan menanggapinya dengan demam dan membantu menyembuhkannya.

Demi mendapatkan banyak kawan yang akan mendemam jika aku terluka, maka dalam keadaan demam aku pun menuju Pasaraya Blok M untuk menghadiri sebuah undangan. Di sanalah aku berjumpa dengan siapa-siapa yang boleh saja disebut sebagai para pengeblog: Imelda Coutrier-Miyashita, Enny Dyah Ratnawati, Nh Her, Lady Clara Sihotang, Jumria Rahman, dan Reva Liany Pane. Karena tulisan ini kuposting melalui surel, maafkan jikalau tidak kusertakan tautan.

\Barangkali aku lebih suka istilah pengeblog daripada narablog mengingat narapidana sepertinya kurang memesona.\

"Jarahan" Kopdar Blogger Merdeka! #doraemon

A photo posted by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Selain kudapatkan beragam makanan dan barang di atas, aku pun beroleh banyak pembagian pengalaman, Saudara. Tentu saja karena aku adalah yang termuda, maka dengan mudah aku menyerap banyak pengalaman dari yang lain yang tentu telah memiliki lebih banyak riwayat dan pengalaman mengarungi bahtera kehidupan. Mereka telah pula lebih banyak menginjak beragam tanah di berbagai belahan bumi dan menyantap lebih beraneka macam makanan.

Di antara sari pengalaman yang kuambil adalah bahwa di luar sana banyak perempuan-perempuan yang jahat yang tidak hormat kepada lelakinya dan bersifat hartawi. Maka aku dinasihatkan untuk lebih berhati-hati dan cermat dalam memilih perempuanku. Tak perlulah terburu-buru dan nikmati saja dulu masa mudaku. Begitu katanya.

Di antaranya pula bahwa banyak pernikahan yang berhasil dan langgeng karena pihak suami dan pihak istri sama-sama menyadari bahwa mereka berdua adalah ibarat masing-masing dari rel kanan dan kiri yang mengarah ke stasiun yang sama. Maka pasangan harus dianggap sebagai rekan hidup dan sahabat dalam kehidupan. Kemudian pula semuanya sepakat bahwa cinta hanya ada di buku-buku cerita. Pernikahan adalah lebih condong kepada negosiasi-negosiasi hidup daripada kisah-kisah asmara yang berlebihan. Tetapi kita akan tahu pada suatu titik bahwa kita tidak akan bisa lebih baik jikalau tidak bersama pasangan kita itu. Terdengar nyata, bukan?

Barangkali satu hal ini telah lama pula kupahami dan renungkan. Yaitu bahwa perkara jodoh tak melulu sesyahdu Ayat-Ayat Cinta ataupun sesendu buku-buku roman. Sebagian besar contoh sukses perjodohan dan perpasangan adalah karena kegigihan masing-masing pihak dalam pasangan untuk mau menerima dan saling bernegosiasi demi mencapai satu tujuan yang sama.

Kemudian satu hal lagi yang kudapatkan. Yaitu bahwa bubur ayam di pujasera di situ ternyata lezat dan sungguh bisa direkomendasikan. Maka pada suatu saat nanti aku akan ke situ lagi untuk mencobanya sendiri. Bagaimana?

ttd

Farijsvanjava, di suatu Ahad pagi yang mendung.
Dari pagi hingga siang di suatu toko donat yang menyediakan kopi hangat.
Pulpen di tangan kanan dan papan ketik di tangan kiri.
Telinga menyimak Waljinah dan mulut menyesap kopi.
Dengkul kiri terasa perih, badan panas-dingin, dan gigi senat-senut karena berlubang.
Sekian.

7 pemikiran pada “Demam Bertemu Pengeblog

  1. Benang fibrin membantu menghentikan darah dari bagian tubuh yg terluka.

    Bagus bang,πŸ™‚
    Hidup ini sesungguhnya sengsara namun diri kita sendirilah yg membuatnya nyaman ketika kita mampu menghadapinya. Kaya cerita cinta ngga semudah dan seindah kisah dongeng atau novel kebanyakan.
    Cerita cinta itu indah karna ‘masalah’ , kenyataan kehidupan bahwa menerima pasangan kita apa adanya, menerima segala kekurangannya.

    Suka

  2. berjumpa dengan banyak orang, narablog, dan siapa saja, sering memberi semangat2 dan kekuatan2 baru utnuk terus berkarya. itulah pentingnya kopdar, dll bagi pengeblog

    Suka

  3. aku ngiri…. bisa ketemu bu imelda…. *fans-diam-diam

    iya memang, nikah itu lebih ke negoisasi, tapi buatku cinta tetep perlu… mungkin lebih ke “sayang” kali ya?! cinta yang lebih kalem. Apa jadinya kan kalo pernikahan tanpa kasih sayang?! *eh, kok kaya lagu?!

    Suka

    1. Hwehe. Tahun depan minta diundang juga ntar ama Bu Imel, Mbak.

      Eh, di situ aku nulis juga gak sik kalau dalam memilih pasangan kita juga harus “suka” sama pasangan kita itu? Bu Enny bilangnya gitu juga, tuh.

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s