Dian Tak Kunjung Padam

Sementara itu hari bertambah lama bertambah terang jua. Pada beberapa tempat kelihatan tangan y*ng putih mengulurkan timba ke air dari dalam rumah. Pagi-pagi serupa itu ialah waktu perawan-perawan Palembang mandi. Menurut adat mereka tidak boleh memperlihatkan dirinya, tak boleh keluar rumah. Dan kalau mereka mesti keluar rumah misalnya hendak pergi ziarah ke kubur atau mengunjungi sanak-saudara, maka gadis itupun seolah-olah dibungkus dengan bermacam-macam kain y*ng indah-indah sampai ke kepalanya. Hanya kakinya dan ujung tangannyalah y*ng kelihatan.

Sutan Takdir Alisjahbana, dalam “Dian y*ng Tak Kunjung Padam”

\Mohon maaf, Saudara, penyebutan kata ‘y*ng’ tiadalah dapat kuhindarkan. Demi tegaknya cerita, berpura-puralah bahwa aku tidak mengetikkan sama sekali kata ‘y*ng’ tersebut. Terima kasih.\

Kalian tahu, bukan, bahwa ketika SMP aku pernah didaulat untuk mewakili sekolah dalam perlombaan menulis resensi novel lawas ini? Pada waktu itu aku tidak tahu kata-kata, terlebih kata-kata kemelayuan. Maka aku pun tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa, demi menuliskan resensinya. Apabila sekarang, tentunya akan lebih mudah bagiku melakukannya karena aku punya akses untuk menemukan arti kata per kata.

Beruntunglah, karena Sabtu kemarin aku membeli buku ini demi mengutipkan satu paragraf di atas khusus untuk kalian, para pembaca budiman.

Buku "Dian y*ng Tak Kunjung Padam"
Buku “Dian y*ng Tak Kunjung Padam”

Seperti itulah kiranya dulu kuberangan-angan tentang gadis Palembang. Kulitnya sudah pasti putih-putih, tentu saja karena jarang keluar rumah dan apabila keluar pun seluruh tubuhnya terlapisi kain demi melindunginya dari sengat matari. Kan? Dan apabila mereka mandi, wuih, mereka menimba sendiri air Sungai Musi dari dalam rumahnya. Wow~ Apa benar begitu?

Mari kukutipkan sekali lagi untuk kalian:

Perawan y*ng baru bangun tidur itupun berdiri seketika dimuka pintu dan memandang kebawah dengan mata y*ng terkelip-kelip, ke anak air, ke Musi dan…. ketika itu bertemulah matanya dengan mata Yasin y*ng seakan-akan tengah dalam keheranan itu.

O, jeling mata y*ng menambat! Engkaulah tali y*ng tak dapat dilihat, tak dapat diraba, tetapi …. terang mengikat.

Aih, indahnya kisah asmara. Siapa tak ingin? Asal jangan mengalami kisah pilu milik Yasin dan Molek ini. Kan?

2 pemikiran pada “Dian Tak Kunjung Padam

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s