Limabelas Mei Tigabelas

Allâhu Akbar! Allâhu Akbar! Lâ ilâha illallâh!

Samar-samar kudengar suara itu. Iqamat.

“Hah? Mengapa aku ada di sini? Aku ini siapa? Apa hal terjadi dengan diriku?”
Seperti itulah barangkali kalau aku hidup di dalam sinetron.

Sepertinya ada sesuatu di kakiku dan sesuatu itu bergerak-gerak. Apakah?
Kugerakkan kakiku. Oh, ternyata masih bisa.
Tiba-tiba mak srantal, sesosok makhluk menjauhiku;
seperti kaget bahwa ternyata aku masih bernyawa.
Betul, Saudara. Makhluk itu ternyata adalah sesuatu bergerak-gerak di kakiku tadi.
Rupa-rupanya tikus. Sudah hitam, dekil, besar pula.

Tanpa perlu pendahuluan “kurasakan”, kaki sakit. Perutku jauh lebih sakit.
Apalagi kepalaku: pening dan pusing menyatu.
Aku hanya punya dua tangan. Maka tangan kiriku kupegangkan ke kepala.
Sementara itu lengan kananku tak bisa kugerakkan.
Pantaslah, Saudara, karena ia tergencet gajah badanku.
Lengan kananku lecet.

Tanganku lecet. Entah bagaimana.
Tanganku lecet. Entah bagaimana.

Kalian masih belum mengerti?

Itulah keadaanku subuh tadi. Aku terbangun di taman kecil samping rumah.
Tentu kalian sudah tahu ada beragam pot berbunga di situ.

Bilamanakah aku bisa sebegitu rupa sehingga demikian adanya?
Entahlah. Itulah sejatinya maksudku menuliskan ini, yaitu agar kalian memberitahuku.

Aku tak ingat. Terakhir kuingat, tadi malam aku tak bersantap.
Aku ingat kepalaku rasa-rasanya naik pitam. Seakan darah semua berkumpul di wajah.
Aku ingat pula perasaan seakan terkhianati.

Entahlah. Terakhir ini aku memang terfitnah.
Kalian tahu bukan salah satu makna awalan “ter-“?

Kalau tentang terfitnah ini aku ingat betul.
Dia adalah seseorang. Artinya tak lebih dari satu orang.
Kusarankan kepadanya untuk membuka rekening tabungan lain bank.
Karena bank tabungannya sekarang tak banyak punya ATM.
Segala Rupiahnya kusarankan ditransfer setiap bulan ke bank lain dengan banyak ATM.
Agar mudah berkeseharian.
Karena ia pun ingin menyimpan uangnya sebagian untuk masa depan, maka ia mengatakan ini kepadaku.
Dia akan membuka rekening tabungan lain bank itu. Tetapi dengan kata-kata seolah-olah itu bukan ideku.
Lebih konyolnya lagi, “karena” bank lain itu lebih banyak ATM daripada banknya sekarang, “maka” ia pun mengatakan bahwa rekening barunya itu akan dipakainya sebagai simpanan masa depan.
Sementara simpanan di bank lamanya tetap dipakai untuk keseharian.
Betapa pemikiran ini “sedemikian brilian lagi cerdas”, bukan?

Aku mencoba meluruskan kepadanya. Akulah pemberinya saran untuk membuka rekening tabungan lain bank.
Rekening baru itu pergunakanlah untuk keseharian. Karena bank lama lebih sedikit punya ATM, jadikanlah ia sebagai penyimpan tabungan masa depan. Tentu pula karena dengan demikian akan lebih aman baginya karena tidak bisa seenaknya sendiri mengambil simpanan.
Lebih logis demikian, bukan?

Rupa-rupanya dia tak terima. Difitnahnyalah aku di depan kawan-kawannya.
Dikatakannya: “Mengapa aku tak diperbolehkan punya dua tabungan?”

Kita kembali ke pagi tadi. Setelah bersusah payah terbangun, kutemukan ponselku begini rupa.

Ponselku pecah.
Ponselku pecah.

Padahal akhir pekan kemarin aku sudah berencana untuk membawa ponselku itu ke pusat perbaikan.
Jikalau akhir pekan kemarin itu jadi kubawa (untuk membetulkan papan ketiknya) barangkali ponselku tak jadi seperti ini.
Gara-gara seseorang, aku tak jadi pergi ke pusat perbaikan itu. Takdirnya memang begitu.

ASUMSI PERTAMA: Aku berjalan sambil tidur. Menuju ke taman kecil itu.
Kemudian jatuh tertidur karena sepertinya lantainya nyaman.

ASUMSI KEDUA: Aku tidur sambil berjalan. Menuju ke taman kecil itu.
Kemudian terjatuh karena kehilangan keseimbangan.

ASUMSI KETIGA: Doraemon iseng memindahkanku ke taman kecil itu.

Sekian.

NB.
Bagi siapa saja di antara kalian, apabila mengetahui akibat keadaanku itu tadi pagi,
tolong segera beri tahukan aku. Menerima kasih dan sumbangan.

12 pemikiran pada “Limabelas Mei Tigabelas

  1. he? mosok sampai sebegitunya mas?
    sadurunge yo wis tau kejadian seperti inikah, tiba2 jatuh tertidur?
    apa ya memang karena beban pikiran fitnahe itu?

    Suka

  2. baru ini hari saya membaca posting2 kamu mas.. lucu2 jg kata2nya… bikin saya ketawa.. ono ono ae sing diomongke…

    Suka

  3. lucu kabeh mas.. sampean tiang pundi mas.. lucu jg nek duwe konco koyo sampean, mseti iso guyu2 terus saben dino…..

    Suka

  4. tambah ngguyuuuuu aku…. ” mosok kulo tiyang sanes” mungkin yg dimaksud ” Kulo sanes tiyang” hahaha…. trus opo yoo…???

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s