Makan Gak Makan Gak Oleh Kempol

Menjalani hidup tidaklah semudah membuat kerak telor. Salah melangkah, bisa-bisa tersandung trotoar reyot. Atau apes-apesnya keserimpet kaki sendiri.

Membuat kerak telor pun tidaklah semudah membuat telor dadar. Salah memecah telor bisa-bisa jadinya telor ceplok atau telor mata belok.

Kalian tahu?
Aku sering menggumamkan “lapar” ke banyak orang. Kirim email cuma bilang “laper”. SMS cuma bertuliskan “laper euy”. Status BBM “lapaaaar”. Setidaknya aku kreatif dalam menggumamkan kata lapar. Kan?

Lain lagi respon orang-orang itu. Semuanya kompak contek-contekan dengan sama-sama berjawab: “Makanlah”.

Tentu saja orang lapar harus makan agar laparnya hilang dan terbitlah kenyang. Bayi itu kecil-kecil sudah pintar mengaduh lapar. Menangis saja dia sejadi-jadinya, maka oleh emaknya diberinya ia susu untuk dimakan.

Akan tetapi tak semua orang bisa seperti bayi. Sekali mengaduh kelaparan tidak lantas tersedia sebakul nasi. Kan?

Coba saja tengok anak-anak si manusia gerobak. Berkali-kali mereka mengaduh lapar, berkali-kali itu pula mereka kenyang akan bujukan emaknya untuk terus bersabar.

Kalian mungkin sudah tahu kalau manusia tidak sama seperti melati: bisa menghasilkan wangi melati pada saat ia mekar. Akan tetapi melati pun takkan bisa seperti manusia: menghasilkan semerbak bau pada saat ia tak mandi.

Sekian.

Salam,
Farijsvanjava, pada saat ia tidak mandi, sedang berdiri bersandingkan pohon melati sambil menatap purnama di keremangan. Bidadari mana tidakkan lari merasakan aromanya? T_T

4 pemikiran pada “Makan Gak Makan Gak Oleh Kempol

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s