Cadangan dan Inovasi

Kan kalian sudah tahu kalau aku sering mendaulatkan diri didaulat menjadi Cadangan Mempelai Pria?

Nah, aku pun selalu berusaha menjalankan peranku tersebut dengan baik dan benar serta penuh dengan penjiwaan. Maka tak heran kalian sering menjumpaiku selalu siap dan hadir terlebih dahulu di tempat penyelenggaraan akad nikah. \Apakah ini terlalu berlebihan, Saudara?\

Maka jantungku pun akan berdegup kencang manakala si mempelai perempuan datang beserta rombongan. Jantungku pun berdegup makin tak keruan setelah kudapati ternyata sang mempelai laki-laki lama tak datang-datang. Barangkali ia terlambat, maka apabila si mempelai perempuan sudah tidak sabar cadangan pun terpaksa dipergunakan. Kan?

Kebahagiaan memang dapat muncul secara sebentar digantikan dengan kekecewaan. Maka aku sedikit kecewa begitu rombongan datang membawa serta sang mempelai laki-laki. Harapanku untuk menjadi cadangan berguna pun sirna, Saudara.

Ada satu hal ini dapat menjadi obat kecewa hatiku. Inilah apa maksudku dalam “Tahu?“. Bukan ucapan ijab apalagi qabul. Karena ucapan-ucapan itu sudahlah baku kiranya.

Saya nikahkan engkau dengan anak saya Fulanah binti Saya dengan mas kawin Bisa-Perhiasan-Bisa-Rumah-Bisa-Mobil-Bisa-Mukena dibayar tunai.

Saya terima nikahnya Fulanah binti Situ dengan mas kawin tersebut dibayar ngangsur tunai.

Ya paling tak jauh-jauh dari ucapan itu. Kalau pun berimprovisasi, tak jauh-jauh dari sekadar perubahan bahasa.

Ucapan penghulu pun barangkali sudah standar di mana-mana begini: “Bagaimana saksi? Sah?”

Khotbah pernikahan pun demikian. Isinya biasanya standar, yakni berwasiat kepada kedua mempelai agar senantiasa bertakwa kepada Tuhan Pencipta Alam, berbaik-baik dalam mengarungi bahtera rumah tangga, dan seterusnya. Tak bakal itu pengkhotbah mewartakan berapa harga sembako, misalnya.

Maka acara inilah selalu kutunggu-tunggu. Ialah pidato penyerahan oleh wakil pihak keluarga sang mempelai laki-laki dan pidato penerimaan oleh wakil pihak keluarga si mempelai perempuan. Dalam pidato-pidato ini berbanyak-banyaklah kiranya upaya out of the box dan kreasi rupa-rupa.

Pernah kujumpai pidato penyerahan dalam bahasa Jawa kluthuk sedangkan pihak penerima sama sekali tidak memahami. Maka tertawalah para hadirin mendengarkan kejujuran dari wakil pihak penerima, tak lain tak bukan pihak keluarga si mempelai perempuan, ketika mengutarakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengerti isi pidato penyerahan tersebut.

Ada pula wakil pihak keluarga sang mempelai laki-laki berlaku iseng dengan membeberkan rahasia bahwa sang mempelai laki-laki sudah tidak tahan untuk segera dinikahkan. Adapun pidato tersebut disambut wakil dari pihak keluarga si mempelai perempuan dengan membeberkan rahasia pula bahwa si mempelai perempuan pun demikian. Maka meledaklah tawa para hadirin.

Ada lagi wakil pihak keluarga sang mempelai laki-laki adalah seorang gemetaran hingga tiang pemegang mikrofon hampir-hampir jatuh menimpa kakinya. Rupa-rupanya ia adalah cadangan wakil pihak keluarga sang mempelai laki-laki. Dengan begitu aku pun iri kepadanya bahwa sebagai cadangan ia pun tak sia-sia karena akhirnya dipergunakan.

Kemudian ada lagi pidato penyerahan mempelai laki-laki sarat dengan pesan-pesan politik. Rupa-rupanya sang penyampai pidato adalah juru kampanye calon kepala daerah. Beruntunglah, Saudara, karena pihak keluarga si mempelai perempuan bukan termasuk pendukung saingan sehingga suasana memanas pun dapat diademkan.

Kujumpai paling banyak juru pidato dari pihak keluarga sang mempelai laki-laki berlaku seperti ini, Saudara. Ia adalah tipe pedagang ulang karena selalu memromosikan sang mempelai laki-laki dengan kelebihan-kelebihannya. Dibilang ganteng, lah. Baik hati dan rajin menabung, lah. Pokoknya sang mempelai laki-laki dipujinya habis-habisan.

Jadi begitulah caraku menenteramkan hati agar tidak kecewa setelah gagal menjadi cadangan mempelai laki-laki. Bagaimana dengan kalian?

2 pemikiran pada “Cadangan dan Inovasi

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s