Kisah Si Bujang Pandir

Jadi, Saudara, malam ini bulan purnamanya tampak seram sekali. Akan tetapi entah mengapa bukan kisah seram terbayang di kepalaku melainkan kisah lucu.

Adalah seorang pandir bernama Bujang pada suatu malam disuruh bininya pergi membeli martabak bangka. Karena termasyhur akan kepandirannya, maka si Bujang pun bertanya kepada bininya, “Bah, macam mana pula aku harus menyeberang ke Bangka hanya untuk membelikan martabakmu?”

Dengan kesabaran nyaris sirna, si bini pun menjelaskan bahwa si Bujang dapat membeli martabak di pasar baru. Adapun ciri-ciri tempat penjual martabak bangka, terang si bini, adalah gerobak penuh dengan perempuan-perempuan berkerudung menunggui seorang haji memanggang purnama dalam loyang bundar.

Hatta, berangkatlah si Bujang menuju pasar baru sesuai dengan arahan bininya. Rupanya malam itu angin tak datang hujan pun tak kunjung turun. Segenap langit terselimutkan berputih-putih awan mendung bak papan tulis dengan sisa-sisa kapur.

Dalam pada itu si Bujang pun tersesat di dalam rimba, meniti jalan setapak di tepi sungai. Syahdan, awan mendung secara perlahan bergeser menyebabkan tersibaknya pesona purnama hari pertama. Angin pun datang berduyun-duyun, menjadikan semak belukar di tepi sungai gemetaran tak keruan.

Dalam bayang-bayang samar si Bujang mendapati perempuan-perempuan berkerudung sedang mengerumuni seorang haji. Adapun si haji sedang memegang loyang bundar dengan purnama di dalamnya. Merasa tangkapan pandangnya sesuai dengan penjelasan bininya, si Bujang lari lintang pukang menghampiri perempuan-perempuan berkerudung itu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Maka kaki si Bujang pun tersandung akar pepohonan. Maka si Bujang pun jatuh terjerembab kemudian terguling-guling hingga akhirnya masuk ke dalam sungai. Maka segala kain penutup tubuhnya pun berada dalam kebasahan.

Sesungguhnya perempuan-perempuan berkerudung tadi hanyalah bayangan semak-semak tertiup angin dan terpantulkan permukaan sungai oleh adanya sinar rembulan. Maka si Bujang pun menyadari bahwa loyang bundar dengan purnama di dalamnya hanyalah riak-riak air sungai dengan bayangan purnama. Akibat kejadian inilah maka untuk selanjutnya martabak manis disebutnya sebagai Terang Bulan sebagai pengingat betapa kepandiran si Bujang dapat membangkitkan amarah bininya karena tak jadi makan martabak.

Segala kebaikan datangnya dari Sang Pemberi Kehidupan. Sementara segala kelucuan hanyalah reka-rekaan pembaca budiman. Sekian.

5 pemikiran pada “Kisah Si Bujang Pandir

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s