Holol Tanpa R

Hujan deras sekali sejak sore. Gubuk ini pun seakan hampir runtuh.

“Brug! Brug! Brugg!”

Aku tidak bisa tidur. Hatiku gelisah. Oleh suara-suara gemuruh hujan. Oleh suara-suara gaduh dari gesekan pohon-pohon bambu di kebun belakang. Angin bertiup kencang sekali, wahai engkau.

Bodoh sekali. Seharusnya aku tidak langsung kabur. Seharusnya aku sarapan dulu banyak-banyak. Mama baru saja masak nasi goreng tadi. Seharusnya aku menahan diri dulu, makan setidaknya tiga piring nasi goreng dan lima potong telur dadar, minum dua gelas susu, baru kemudian kabur.

Salah Mama juga mengapa tadi aku diajaknya bertengkar sebelum sempat ia menghidangkan masakannya ke meja makan.

Aku kelaparan.

Oh, betapa lagi aku bodoh sekali. Seharusnya aku kabur ke pasar atau warteg, bukannya ke hutan macam begini. Di hutan ini rumput pun tak enak rasanya.

Aku menyesal.

Oh, Mamaku si jahat buruk rupa. Betapa engkau kejam melarangku memakai rokmu. Bukankah engkau punya rok dua lemari? Kalau tidak ingin aku memakai rokmu, setidaknya belikanlah aku satu atau tiga potong saja. Warna merah, warna ungu, dan warna krem. Aku rasa aku takkan menuntutmu lebih daripada itu.

“Kreuuuk! Kreuuuukk!”

Aduh, suara menyeramkan apa pula itu? Aku tidak siap menghadapi hantu dalam keadaan perut lapar begini.

Orang-orang kampung punya cerita menyeramkan tentang gubuk di tepi hutan ini. Dulu pas zaman Jepang, anak gadis pak lurah waktu itu meregang nyawa dengan tragis di sini. Waktu itu, begitu ceritanya, si Mirah baru saja dilamar oleh pemuda tanggung bernama Pola. Lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pak Lurah karena orang tua Pola adalah musuh bebuyutannya. Padahal si Mirah dan Pola adalah dua sejoli terikat asmara. Maka mereka berdua pun memutuskan hendak mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di gubuk ini.

Persis di tempatku sekarang berbaring, wahai engkau, Pola mengikatkan dua utas tali di langit-langit. Masing-masing tali untuk masing-masing leher Pola dan si Mirah. Waktu itu hujan pun turun dengan deras. Pohon-pohon bambu pun sama-sama mengeluarkan kegaduhan akibat tertiup angin ribut.

Ketika Pola mengalungkan tali ke leher si Mirah, bersamaan dengan itu serombongan Pasukan Jepang datang dan mendobrak pintu. Pola langsung ditangkap dan diseret ke dalam hutan. Karena disangka sebagai anggota gerilyawan pemberontak, Pola pun lantas dieksekusi mati dengan ditembak oleh satu regu tembak.

Nasib si Mirah pun tak kalah tragis. Begitu Pasukan Jepang menangkap kekasihnya, sekujur tubuh si Mirah gemetaran tak keruan. Ia lantas ditinggalkan seorang diri di gubuk derita…dan terlupakan. Berhari-hari si Mirah ketakutan di dalam gubuk hingga ajal pun menjemputnya lantaran kelaparan. Semenjak itu konon kabarnya terdengar suara tangis menyayat hati dari dalam gubuk. Tak lain tak bukan adalah suara tangis arwah gentayangan si Mirah mencari-cari kekasihnya.

Sejak kudengar pertama kisah itu, aku tidak berpikir itu adalah kisah seram. Aku malah berpikir kisah tragis itu seperti kisah Romeo dan Juliet, tanpa menyisakan sedikit pun kehororan. … Hingga sekarang aku berada di gubuk di mana si Mirah kelaparan hingga mati.

Aku tidak ingin menjadi si Mirah zaman reformasi. Tentu saja, wahai engkau, karena aku adalah lelaki.

24 pemikiran pada “Holol Tanpa R

                    1. saya malas mencari,
                      lebih baik lapor polisi saja,,,
                      biar pak polisi yang mencari dompetnya,,,,

                      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s