Hujan Ibu

Terbangun aku dari tidur siangku. Gara-gara suara petir menggelegar dan kericuhan suara genteng dihunjami hujan deras.

Hujan di sini berangin, Saudara. Aku lihat tiang-tiang antena milik tetangga terombang-ambing seakan hendak roboh. Pot-pot gantung terombang-ambing. Sementara itu luruhan air dari talang sudah seperti air terjun dengan berkas-berkas airnya tertiup ke mukaku. Menyegarkan.

Dalam pada itu di dapur sedang ada penggorengan perkedel. Kalian tahu, bukan? Yakni sejenis lauk, meski dia terbuat dari lumatan kentang dicampur cacahan daging sapi, tetapi digoreng sedemikian rupa sehingga harum bumbunya tersebar ke mana-mana. Membuatku merasa lapar dan kangen masakan Ibu di kampung halaman.

Aku tahu hari ini adalah Hari Ibu karena tadi malam Ibu meneleponku memberitahukannya. Sekarang aku menyesal karena tidak jadi pulang ke kampung halaman dan menikmati perkedel buatannya.

Ah, perkedel~

2 pemikiran pada “Hujan Ibu

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s