Awan Tembok

Satu jam lalu langit bagaikan tembok hitam dengan sedikit keretakan karena sinar bulan. Sekarang keretakan itu makin lama makin membesar hingga sebagian besar berwarna kelabu.

Eng ing eng~

Dengan begitu aku pun tersadar, Saudara, bahwa selama beberapa hari ini tak kupikirkan sejenak pun akan bulan. Aku tak tahu lagi kapan akan purnama, kapan akan mati. Ada apakah gerangan dengan diriku?

Eng ing eng~

Satu hal pasti, Saudara. Malam ini, seperti malam-malam biasanya, antrean Mbakasircakep makin panjang sahaja. Dengan terpaksa aku telikung segala inginku untuk dilayani olehnya untuk kemudian beralih ke Mbakasir di sebelahnya.

Eng ing eng~

Malam semakin dingin dan angin merontokkan air tangkapan daun ketika sore tadi hujan. Maka aku pun basah oleh peluh. Yakni oleh peluhku sendiri akibat kepalan menghantam tiang besi. Yakni oleh peluhku sendiri akibat berlari.

Eng ing eng~

Aku berharap melihat bintang jatuh malam ini. Agar hatiku tenteram karena mendung berarti menghilang.

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s