Dilema

Dilema adalah direkatkan dengan huruf A. Eh, salah.

Dilema adalah suguhan berupa pisang goreng tetapi ditaburi dengan parutan keju.

Sekarang ini aku berada di posisi strategis dalam rangka menunggu turunnya bidadari khayangan turun ke bumi untuk mandi. Jadi aku sedang duduk di tepi sebuah danau sedangkan bersembunyi adalah cara efektif alih-alih menyamar sebagai seekor kucing atau serigala berbulu kambing. Sudah nyaris satu jam aku begini sambil sesekali kepala kutengadahkan ke langit sehingga pandangan mata lurus ke arah purnama dan sesekali pula aku sebar pandangan ke segala penjuru danau, akan tetapi bahkan tak sehelai selendang bidadari khayangan pun tertangkap penglihatanku.

Setelah bertahun-tahun ini setiap malam bulan purnama kunantikan turunnya bidadari-bidadari khayangan tetapi tak pernah kudapati bahkan bayangannya, aku pun menjadi curiga jangan-jangan bidadari khayangan adalah makhlul takkasat mata manusia. Apakah benar demikian, Saudara?

Atau jangan-jangan di tawang sana sudah dibuat danau buatan untuk para bidadari khayangan mandi berendam berlama-lama sekaligus bercengkerama antara satu dengan lainnya? Kalau hal ini adalah benar, bagaimana nasib pujangga amatiran sepertiku?😦

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s