Kuciang Siang

Kalian tahu aku berada di mana, Saudara? Di atas tikar!πŸ˜€

Ya, aku menggelar tikar di antara pot-pot tanaman di samping rumah. Karena di bagian barat rumah berdiri rumah berlantai dua, maka pada waktu-waktu sekarang sebagian besar wilayah pot-pot ini terlindungi dari teriknya sinar matari langsung.

Kulihat di selatan sana langit sudah menggelap. Gemuruh guntur pun saling bersahut dengan gonggongan anjing tetangga samping rumah. Ya, aku kenal ibu penghuni rumah sebelah kanan rumah ini. Ia penyayang anjing. Sering aku melihatnya di teras rumah bersama anjing besarnya, Yasmin, mengobrol dengan asyiknya. Si ibu, seperti mengajak bicara anak bayinya, berkata-kata lembut dan penuh sayang, menasihati si Yasmin agar tidak nakal, makan banyak, dan lain-lain. Sementara si anjing, sesekali dielus-elus kepalanya oleh si ibu, mendengarkan dengan saksama segala petuah itu sambil sesekali menyahut ‘guk guk’ seakan-akan ia mengerti dan paham akan bahasa Jawa.

Setiap pagi atau sore, apabila ada tetangga lain sedang mengajak jalan seekor anjing dan melintasi rumahnya, si ibu menyempatkan diri untuk sekadar menyapa si anjing, menanyakan kabarnya kepada pemiliknya, dan mengajak bicara si anjing. Lucu. Sekaligus menyentuh. Kan?

Lain lagi dengan ibu tetangga samping rumah di sisi sebelah kiri. Ia adalah penyayang kucing. Di rumahnya ada banyak kucing. Kucing-kucingnya seringkali tinggal di belakang rumah, berdiam diri di atas sumur. Karena kami berbagi sumur dan halaman belakang, jadilah aku sering melihat si ibu berbincang-bincang dengan kucing-kucingnya. Sama seperti ibu tetangga penyuka anjing di atas. Hanya saja si kucing tidak menyahut dengan ‘guk guk’ melainkan ‘meong meoong’. Sudah pasti, bukan?

Kadangkala kucing-kucingnya ini dijenguk oleh kawannya si kucing liar. Seperti tadi malam, kawannya ini datang lantas bertengkar dengan salah satu kucingnya si ibu. Mereka berisik sekali. Lantas si ibu datang menghampiri lantas memisahkan. Masih tak terima dipisahkan, si kucing liar ini pun memulai pertengkaran mulut.

Seandainya nilai TOEFL bahasa kucingku sudah di atas 500, barangkali aku akan mengerti caciannya itu. Kucing-kucing si ibu pun membalas mencaci. Hingga makin ramailah keadaan tadi malam oleh perdebatan kucing-kucing dengan si ibu seperti ikut berteriak-teriak melerai mereka. Setelah nyaris satu jam, akhirnya disepakati bahwa si kucing liar tidak boleh ikut tinggal di situ dan harus angkat empat kaki dari tempat itu. Tentu saja aku tahu perkara ini dari si ibu penyayang kucing. Kan?

Duh, berasa kek anak SD gini yak aku nyeritainnya. Haha!

Jadi, cukuplah sekian ceritaku hari ini. Aku sedang menyelesaikan membaca The King of Attolia sambil duduk di atas tikar dan mendengarkan kicauan burung-burung gereja. Sekian. Selamat berlibur.

4 pemikiran pada “Kuciang Siang

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s