Jokorto Banjir Akibat Mendoan

Jakarta sudah mulai diguyur hujan. Siram bayam biar lekas besar.

Keluhan-keluhan kemarin semacam kegerahan, matari terlalu terik, tersengat siang, dan sebagainya berangsur-angsur menghilang digantikan oleh keluhan-keluhan esok semacam banjir, macet parah, becek, dan tidak ada ojek. Khusus untuk diriku seorang, keluhan ruam-ruam kecil penyebab rasa gatal di sekujur lengan dan badan sedikit demi sedikit pun menghilang. Ruam-ruam kecil itu boleh kalian sebut sebagai biang keringat.

Akan tetapi sebagaimana halnya dengan keluhan Jakarta, keluhanku pun tergantikan menjadi kulit kering sehingga busik di lengan semakin kelihatan (akibat ruam-ruam merah menjadi menghilang). Kalau aku lupa membawa pulpen dan kertas, maka aku dapat menjadikan lenganku sebagai penggantinya untuk mencatat sesuatu. Ternyata malah berfaedah dan lebih praktis, bukan?

Jadi, akankah tanah Jakarta pada beberapa pekan mendatang akan banjir? Atau akankah ia menjadi kering seperti kulitku? Bagaimana dengan pemerintahan baru, apakah sudah memiliki perencanaan dan persiapan-persiapan penanggulangan? Ah, aku tidak ingin memikirkan perkara-perkara serius semacam ini, Saudara. Setidaknya setelah tadi malam aku merasakan suatu sebutan “keracunan tempe mendoan”.

Sesungguhnya sudah sejak aku masih kecil sering mengalami sebutan tersebut di atas, Saudara. Kadangkala \hanya terkadang, tidak selalu ataupun sering\ aku mengalami mual setelah memakan tempe goreng tepung. Kata ibunda perutku tidak menolak salah satu bahan campuran dalam tempe goreng tepung yaitu apu. Aku pun tak habis-habisnya berpikir bagaimana bisa sejenis kapur berwarna putih sebagaimana biasa kulihat di dalam kotak sirih nenekku bisa dicampurkan dalam adonan tepung tempe goreng. Beberapa orang berkata bahwa apu digunakan untuk merenyahkan tepung, beberapa lainnya berkata bahwa itu untuk menjadikannya tetap putih walaupun gosong.

Adakah di antara kalian mengetahui perihal ini? Aku masih membuka kemungkinan bahwa minyak goreng basi-lah penyebab mualnya perutku. Atau barangkali saja tepung basi. Atau barangkali pula karena aku terlalu banyak makannya. Entahlah.πŸ˜€

6 pemikiran pada “Jokorto Banjir Akibat Mendoan

    1. Aku juga suka mendoan, Dek. Cuman ya itu, kalau lagi gak beruntung, bisa mual aku.😦

      Yah, jangan begitu, dong. Hujan itu kan rahmat. Jadi turunkan saja hujan jikalau itu memang baik. Kan? Rencana jalan-jalannya pan bisa sambil hujan-hujanan.πŸ˜›

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s