Purnama Berduka

Bagi sebagian kalian, mungkin postingan ini terbaca klise, cenderung basi, atau bahkan mengada-ada. Itulah mengapa barangkali kalian harus sering-sering membawa klem kertas kemanapun kalian pergi. 😀

Jadi, aku sedang menatap bulan purnama di langit timur sana. Indah sekali. Maka ketika kemudian purnama berada di kananku, aku pun segera tahu bahwa bus ini sedang melaju ke utara. Sekarang bulan ada di kananku, matahari di kiriku. Maksudku, di sebelahku duduk seorang ibu muda menenteng tas belanja Matahari.

Sayang beribu-ribu sayang kameraku masih dipinjam. Jadilah aku tidak bisa memotret purnama menawan ini. Pun tak bisa secara tak sengaja kupotret para bidadari khayangan sedang turun ke bumi untuk sekadar mandi. Padahal sudah sering kubayangkan, siluet sesosok bidadari tertangkap oleh kameraku ketika sedang memotret purnama. Kubayangkan betapa elok sosok bidadari itu karena seperti sedang menari di atas langit dengan selendang terbangnya.

Jika sekarang musim penghujan tiba, apakah bendera setengah tiang sudah tidak musim lagi? Kulihat tadi tiang-tiang bendera punya bendera di pucuknya. Apakah negeri ini sudah sedang tidak berduka?

2 pemikiran pada “Purnama Berduka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s