Menunggu Nantian Lanjutan

(klik elipsis di samping untuk menyimak kisah sebelumnya)

Hujan sudah lama berhenti. Maka anak-beranak katak atau kodok, entah apa bedanya, serentak menyanyikan lagu ritual semacam ucapan syukur mereka kepada langit atas dicurahkannya berkah.

Suara ‘tek dung’ pun berbaur akur dengan alunan ‘krik-krik’. Adapun ‘dug dug’ bunyi jantungku fungsinya sebagai penjaga tempo dalam orkestra malam ini. Akan tetapi semakin malam semakin cepatlah tempo, menandakan kegelisahanku semakin menjadi-jadi.

Kupejamkan saja mataku. Maka gelap malam pun berubah menjadi seputih kabut. Kututup pula telingaku. Maka detak jantung adalah bunyi satu-satunya. Dengan begitu hidungku semakin peka terhadap bebauan. Maka dapat kuhidu aroma lumpur bercampur dengan bata. Kuhidu pula wangi bunga kemboja di atas kepalaku.

Dalam pada itu, hawa pun semakin dingin hingga aku nyaris menggigil. Kurasai ada semacam angin bertiup lembut ke arahku. Sejenak badanku menghangat untuk kemudian dingin kembali. Hidungku menengarai wangi kemboja terkalahkan oleh aroma lain. Adapun aroma itu adalah wangi bunga melati bercampur dengan sedapnya wangi kemenyan dan gaharu.

“Bukalah kedua belah matamu.”

Kuikuti perintah itu. Entah bagaimana bisikan itu bisa terdengar merdu. Kuturunkan tanganku dari telinga lantas kubuka kelopak mataku. Maka aku pun tahu masa penantianku telah usai karena sosok nantian telah ada di hadapanku. Dia mengulurkan tangannya; kusambut dan kugenggam erat tangannya. Dia memelukku. Aku balas memeluknya erat. Seolah ingin kuserap semua dingin badannya di dadaku. Kuelus pelan rambut panjangnya. Angin-angin kecil bertiupan ke atas. Aku pun melayang untuk kemudian memasuki alamnya.

~〜~

TAMAT

\Ternyata ada pula pembuat versi lain dari cerita ini.\

5 pemikiran pada “Menunggu Nantian Lanjutan

  1. […] … (klik elipsis di samping untuk menyimak kisah selanjutnya) -6.196692 106.888431 Rate this:Share this:Lagi Pin ItShare on TumblrDiggCetakSurat elektronikLike this:SukaOne blogger likes this. Entri ini ditulis dalam Susastra dan di-tag cerita, fiksi, misteri, postaday oleh Farijs van Java. Buat penanda ke permalink. […]

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s