Kisah Bus dan Petani Naif

Ini adalah sebuah tulisan ngebut karena kuketik secara spontan dan uhuy. Jadi pada Sabtu pagi di mana langit cerah dan sinar matari menghangatkan badan, aku duduk di sebuah halte bersama sederetan orang dengan posisi duduk kurang lebih sama denganku. Di genggaman tangan kananku terdapat segelas plastik kopi panas berkomposisi pekat, sedikit manis, sedikit asam, dan banyak pahitnya. Dengan demikian kalian tahu bahwa aku mengetik tulisan ini dengan hanya menggunakan jempol tangan sebelah kiri.

Sudah setengah jam lebih aku menanti bus. Sudah gelisah pula, itu pasti. Maka demi menghambur-hamburkan waktu aku ketik tulisan ini. Kan kalian tidak berkeberatan?

Pada suatu hari, berangkatlah seorang petani menuju ladangnya. Dengan membawa cangkul, sang petani pun bercamping seperti layaknya seorang petani. Maka ketika di tengah perjalanan ia bertemu dengan seekor kelinci di tepi semak-semak, petani ini pun berkata dalam hati: “Sesungguhnya aku menyukai rasa daging kelinci. Akan tetapi aku bukanlah seorang pemburu melainkan petani.” Dengan begitu, berlalulah sang petani meninggalkan kelinci.

Tak lama waktu berselang, petani pun merasakan dahaga. Maka ia pun turun ke sungai karena alirannya meliku-liku di sepanjang perjalanannya ke ladang. Tatkala telah sampai di tepian, petani pun berjongkok seraya menangkupkan kedua tangannya hendak menciduk air. Bersamaan dengan disesapnya air sungai segar, petani pun melihat seekor ikan mas memelanting ke udara. Maka dalam hati ia pun mengatakan: “Sungguh pun aku mengidamkan bersantap ikan mas bakar bumbu bali, akan tetapi aku menyadari bahwa diri bukanlah nelayan atau penangkap ikan melainkan hanyalah petani.” Dengan menahankan rasa laparnya, petani itu pun kembali menjaga jalur perjalanannya menuju ladang.

Semakin bergegas sang petani melangkahkan kakinya seperti tak ingin ladangnya direbut petani lain. Maka tak ayal kakinya tersandung akar pohon gaharu sehingga ia pun jatuh terjerembab atau tersungkur. Suara gaduh pun timbul daripadanya sehingga membuat burung emprit dan murai beterbangan ketakutan. Sambil mengaduh kesakitan, petani itu pun mengeluh dalam hatinya: “Sungguh aku bukanlah seekor burung sehingga tak bisa terbang. Akan tetapi aku pun tidak menyukai terjatuh karena tersandung seperti ini.”

Syahdan, pucuk dicinta, pucuk pula tiba. Bus telah datang sehingga aku tak perlu lagi menanti-nanti. Sekian.

2 pemikiran pada “Kisah Bus dan Petani Naif

  1. knapa, kopinya ga dipindahin dulu ke tangan kiri untuk ngetik pk tangan kanan, trus klo mo diminum kopinya baru dipindahin lg ke tangan kanan @_@
    trus ceritanya gt doang?

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s