Cukur Prihatin

Pada suatu malam di mana langit mendung tetapi hawa sangat gerah \tidak menggairahkan\, tersebutlah seorang pemuda gendut yaitu aku sedang duduk menunggu antrean di depan sebuah kedai pangkas rambut. Dalam ketermenungan, aku pun terbawa nuansa malam. Bahwa kemudian aku pun berpikir, barangkali saat ini aku lebih nyaman keadaannya dibandingkan dengan para wanita di jalan itu karena mereka seperti baru saja pulang dari tempatnya bekerja.

Barangkali mereka itu baru saja pulang dari lemburnya lantas pulang dengan tergesa-gesa karena tidak sempat memberitahukan status lemburnya kepada keluarga di rumah. Mereka pasti khawatir memikirkan keluarganya sedang mengkhawatirkan mereka dan menantinya di rumah. Atau barangkali mereka memang bekerja jauh sekali dari rumahnya sehingga setiap hari kerja mereka pulang selarut ini. Dengan begitu aku pun bertambah bersyukur dan turut merasa prihatin.

3 pemikiran pada “Cukur Prihatin

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s