Bodoh

Pada saat itu aku sedang berada di kamar mandi. Seekor lalat mengganggu konsentrasiku yang sedang menoto pagi dengan beterbangan ke sana ke mari membunyikan sayap-sayapnya; berisik sekali. Bagaimana dia bisa masuk ke sini, begitu aku pikir.

Apapun, dia seperti sedang mencari jalan keluar. Berkali-kali dia tabrakkan diri ke jendela kaca. Kalian tahu, kan, kamar mandiku punya dua lubang ventilasi yang masing-masing terdiri atas dua papan kaca yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat disebut sebagai ventilasi?

Setelah bingung mengapa dia tidak bisa keluar padahal menurutnya jalan yang ia tempuh sudah benar, ia pun mondar-mandir ‘bbzzz’ menggangguku. Saat itulah aku berkesimpulan bahwa lalat adalah makhluk paling bodoh yang dengan mudah dapat tertipu oleh hal buatan manusia.

Kemudian pada hari yang lain, ketika aku sedang melakukan hal yang lain pula, tibalah aku pada kesimpulan lain. Kucing bahkan melakukan hal yang lebih bodoh daripada yang dilakukan oleh lalat. Jadi pada saat itu aku sedang duduk di sofa lobi sebuah kantor, menanti datangnya seseorang yang memiliki urusan denganku. Pada saat itulah seekor kucing kulihat berada di muka pintu kantor itu.

Pintu kantor tersebut adalah sepasang pintu yang biasa-biasa saja, tipikal pintu-pintu kantor lainnya: terdiri atas sepasang papan kaca besar yang diberi gagang pintu dari besi nirkarat. Barangkali kantor kalian juga berpintu semacam ini. Pintu itu, yang karena diberi lapisan filter, maka dari dalam dapat dengan mudah melihat ke arah luas sementara dari luar pintu tersebut nyaris seperti cermin buram. Kan kalian tahu maksudku?

Si kucing itu berada di luar, seperti yang kusebutkan tadi, memandang ke arah dalam. Pada saat ia berada persis di muka pintu itu, dia melihat sesosok kucing lain di hadapannya yang tak lain tak bukan adalah bayangannya sendiri. Dari mana saja ia berusaha lewat, sesosok kucing itu tampak menghalangi. Maka ia pun mengeluarkan taringnya dan membunyikan keseraman ‘grrr’ untuk menakuti sosok yang adalah bayangan dirinya sendiri itu.

Merasa ancamannya tak diindahkan, ia pun mulai memukul, kemudian mencakar-cakar. Bodoh kan dia?

Pada suatu malam di lain hari aku pun melakukan kegiatan yang lain lagi. Ketika itu aku sedang duduk di dalam bus TransJakarta yang semua kursinya terduduki dan hanya petugas yang berdiri. Di samping pintu ia berdiri sebagaimana kebiasaannya. Hingga tibalah bus di suatu halte dalam perjalanan pulangku itu sehingga dua orang masuk bus sementara tak ada seorang pun yang keluar.

Yang seorang itu kemudian menuju ke belakang sementara yang seorang lainnya ke depan dan berdiri tepat membelakangiku. Secara spontan aku pun berdiri demi memberikan kesempatan kepadanya untuk sekadar duduk. Kataku kepadanya, “Mbak, silakan duduk saja di sini.”

Malang tak dapat ditolak, murung tak dapat dicegah, untung pun tak dapat diraih. Betapa kebesaran dan kebaikan hatiku tersebut ternyata berbuah malu, Saudara sekalian. Setelah orang tersebut menengok, aku baru tahu bahwa dia bukanlah perempuan cantik sebagaimana yang kuharapkan. Dia ternyata jauh dari itu! Kebalikannya, ternyata dia adalah seorang lelaki berkumis dan berjenggot sama sepertiku. Bedanya adalah dia berambut panjang, sama seperti mbak-mbak yang tadi duduk di sebelahku!

Dari sekian teori yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk paling cerdas sejagad raya ini, ternyata dapat pula tertipu oleh penampakan ciptaannya sendiri. Kan paling bodoh itu namanya?

2 pemikiran pada “Bodoh

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s