Orang Sirkus?

Kan kalian tahu siapa itu orang sirkus? Adalah mereka orang-orang ahli dan terlatih yang melakukan hal-hal yang meskipun berbahaya tetap saja menakjubkan di depan para menontonnya? Kalau kalian sepakat dengan itu, tentu kalian akan mampu menjawab apakah gadis kecil yang baru saja kulihat termasuk golongan orang sirkus ataukah tidak.

Di jalan yang ramai ini seorang lelaki yang gampang saja kutebak dia itu adalah ayah si gadis kecil tokoh pengalamanku ini mengendarai sepeda motornya mengikuti rayapan kendaraan lain. Dimana si gadis kecil itu? Dia berada di jok belakang: BERDIRI!

Sudah jamak aku lihat anak-anak kecil berdiri di jok semacam itu dengan dipegangi oleh ibunya yang duduk di belakangnya. Kan tentu kalian sepakat hal semacam itu berbahaya? Apa lagi kalau tidak dipegangi! MasyaAllah.

Gadis kecil tokoh kita ini tidak dipegangi oleh siapa pun, Saudara-saudara. Tidak ada pula yang duduk di belakangnya. Murni hanya dia dan bapaknya berdua di atas motor. Memang dia berpegangan pada pundak bapaknya. Tetapi seberapa terlatihkah dia untuk memesonakan aku yang menontonnya? Orang sirkuskah dia?

Lain lada, lain pula garamnya. Mari kita bicarakan perihal lain. Kan kalian tahu ini malam minggu? Malam yang panjang buat pacaran bergadang? Orang berkata malam yang romantis untuk dilewatkan dengan orang terkasih, sepanjang tempat dan suasana memenuhi kualifikasi?

Aku barangkali punya ruang semacam itu sekarang, Saudara. Aku sedang duduk di bangku panjang deretan belakang di depan Kantor Pelayanan PLN salah satu cabang Jakarta. Bangku-bangku ini semestinya dipakai duduk orang-orang yang mengantre untuk mendapatkan layanan PLN. Karena hari sudah malam, tentu tak ada lagi orang mengantre di sini. Kan tak ada salahnya aku menumpang duduk di sini?

Tempatku sungguh romantis, bukan? Sementara tak jauh dari sini ada tujuh orang kurcaci pemuda-pemudi yang kutaksir mereka murid-murid SMA sedang mengamen entah untuk menggalang dana apa. Ada dari mereka yang bermain harmonika, ada pula gitar, kendang, bernyanyi, dan ada pula yang sekadar bertepuk tangan. Lagu-lagu yang mereka bawakan terdengar menyejukkan hati, Saudara. Lagu-lagu cinta, lagu-lagu romantis. Sekarang lagunya Naif yang ‘Kubenci untuk Mencinta’ yang sedang mereka mainkan. Kan mereka bisa termasuk pula orang sirkus?

Ya, aku sekarang punya waktu dan ruang yang memenuhi kualifikasi romantis itu. Sayang aku tidak lolos babak selanjutnya “hanya” dikarenakan aku tak punya kekasih pada waktu dan ruang yang sama. Sungguh menyedihkan memang. Kan begitu?😀

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s