Tertipu Kiranya

Kalian tahu? Sepertinya aku telah tertipu oleh pengharapanku sendiri.

Kupikir malam ini akan terang bulan. Karena tadi sekitar pukul 18 sesampainya aku pulang kulihat di langit timur bulan benar-benar cerah benderang. Kalian juga pasti akan berpikir kalau malam harinya akan terang bulan, bukan? Maka kupikir akan sangat menyenangkan bagiku berjalan kaki malam-malam melihat keramaian; juga melihat langit dengan pesona bulan.

Ternyata semua hanya perkiraan, Saudara. Di atas langit sekarang ada terang bulan yang diselimuti awan-awan; nyaris tak kelihatan!

Tapi tak mengapalah, Saudara. Toh aku masih bisa mengamati bumi permukaan. Kusaksikan beberapa warung tenda mulai menutup dan mengemas warungnya. Beberapa gerobak pun sudah mulai didorong pulang. Dan satpam supermarket langganan sudah menutup pintu setengah tiang, tanda pelanggan tidak lagi diperbolehkan masuk dan hanya boleh untuk keluar.

Kutahu mataku masih sehat karena kulihat dari jarak yang tidak dekat di depan supermarket itu berderet lelaki-lelaki penunggang sepeda motor mati. Kuduga mereka adalah para suami yang dengan setia ataupun terpaksa menjemput istri-istri mereka dari tempat kerja. Mereka adalah para suami kasir-kasir, sales promotion girls, dan mbak-mbak customer service.

Kubayangkan apa jadinya kalau aku jadi salah satu dari mereka. Apa kiranya akan kulakukan seandainya aku menjadi suami dari salah satu kasir \oh, please God she’s Mbakasircakep\ yang datang menjemput istri pulang kerja? Tentu aku tidak akan melakukan hal membosankan laiknya mereka dengan menunggangi sepeda motor yang diam belaka. Tentu akan kulakukan hal tak membosankan seperti misalnya membayangkan apa jadinya aku seandainya aku adalah seorang penyendiri yang suka berjalan kaki di malam hari demi menikmati indahnya bulan purnama dan iri melihat aku yang sedang menjemput istri.Aku tak mau iri menguasai hati. Maka aku pun berganti mengamati bangku dan kursi-kursi.

Kulihat banyak bangku dan kursi di sini. Kulihat pula begitu banyak orang duduk di atasnya malam ini. Orang-orang butuh tempat untuk duduk dan mengistirahatkan bodi. Karena mereka tahu tentu akan capai sekali berbincang-bincang sembari berdiri. Bahkan yang bukan bangku atau kursi pun akan mereka duduki. Salah satunya seperti tempat hidrant yang biasanya menjadi tempat aku duduk dan menyendiri. Kini tempat itu ramai antara lain diduduki oleh para tukang parkir dan menjadi tempat nongkrong para penjaja keripik Maca’cih.

Demi menuliskan ini aku pun mencari tempat yang nyaman untuk pantatku sekadar beristirahat. Dan untuk sampai di tempat ini aku sudah berjalan kaki dalam jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Kalian tahu apa nama tempat ini? Di jendelanya terdapat tulisan “Pos Kampling RW Sekian” meski tempat ini sepinya sudah menyerupai kuburan.

Oh, sekarang lihatlah ke langit, Saudara. Rupa-rupanya sang langit telah iba kepadaku. Diceraikannya mega-mega pengganggu dari bulan yang hampir purnama itu. Jadilah sekarang cahaya rembulan bebas mendapati diriku yang kagum akan keelokannya dan akan selalu memuja penciptanya.

9 pemikiran pada “Tertipu Kiranya

  1. Mengamati malam adalah hobi saya juga…
    Jadi teringat para penunggang sepeda motor mati di depan MOI…. menunggu pasangan or langganan…

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s