Hujan dan Filosofi Kehidupan

Malam pun mulai hujan ketika aku beranjak ke kamar mandi. Maka dalam hujan aku pun mandi. Dalam mandiku, aku mulai memenuhi kepalaku dengan beragam pikiran. Mandi dalam hujan itu seperti keadaan menangis dalam hujan. Tangis akan tertutupi oleh hujan dan orang tiada akan tahu bahwa kita menangis dalam hujan.

Pikiran yang sama ternyata telah memenuhi otakku waktu dahulu aku punya pemikiran bahwa mandi ketika berenang tak ubahnya seperti hanya berenang meski sebenarnya kita juga mandi. Maka kencing dalam berenang pun akan sama halnya seperti kita hanya berenang padahal sebenarnya kita mandi dengan air seni kita sendiri.

Seiring dengan penuhnya kepalaku akan pemikiran-pemikiran absurd itu, kamar mandi pun terisi oleh kegelapan. Maka aku pun mandi dalam gelap. Meski gelaplah segala yang dapat kupandang, aku tak bisa terlelap, karena aku sedang mandi dalam gelap.Orang tuli tentu takkan tahu kalau kita sedang mandi dalam gelap. Orang butalah yang justru akan tahu kita menangis dalam gerimis. Sama halnya seperti orang bisu yang takkan pernah mengadu meski ia tahu kita sedang bersedu.

Kita hidup di dunia yang fana, memenuhinya dengan segala hal yang fana pula. Senyum takkan selamanya menjadi senyum. Demikian pula tangis takkan harus selalu berlindung di balik hujan dan petir. Maka ungkapkanlah kesedihanmu dengan berzikir.

Dalam kehangatan handuk aku pun keluar dari kamar mandi. Maka dalam naungan kegelapan aku berlindung dari rasa malu. Dengan demikian kepalaku kembali dipenuhi oleh beragam pemikiran.

Orang bijak mengatakan tutuplah kemaluanmu kalau engkau masih punya rasa malu. Janganlah menutup matamu dengan menilai orang hanya dari penampilan luarnya belaka. Orang yang kelihatannya alim dan berbakti kepada orang tuanya bisa jadi sesungguhnya ia adalah seorang maling dan tukang aniaya.

Maka orang yang gendut sepertiku janganlah kalian kira sudah kekenyangan karena sesungguhnya kebalikannyalah yang sebenarnya terjadi. Aku betul-betul mengalami kelaparan tak tertahankan!

\BRB, mau ujan-ujanan dulu beli makan malam.\

4 pemikiran pada “Hujan dan Filosofi Kehidupan

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s