Berpikir di Luar Kotak

Sekarang makin banyak orang berbisnis rumahan. Bukan berarti mereka menjual dan membeli rumah. Maksudnya adalah menjadi apa yang disebut sebagai penjual daring alias online reseller.

Mereka \atau barangkali juga kalian\ ini gencar melakukan upaya pemasaran melalui media-media jejaring sosial. Yang paling sederhana adalah memasarkan barang dagangan mereka kepada tetangga ketika sedang bergosip dengan tukang sayur keliling.

Tentu saja karena hampir semua penjual daring yang kuperbincangkan di sini adalah para ibu rumah tangga tangguh penjaga keuangan keluarga. Mereka bahkan bangga dengan status mereka. Kata-kata mantra mereka adalah bekerja mencari uang sambil bermain dengan anak-anak dan sambil meng-update status di Facebook.

Kita kembali lagi ke dalam pembahasan upaya-upaya pemasaran yang dilakukan oleh para penjual daring. Cara lebih canggih adalah dengan mengirimkan SMS atau BBM berisi propaganda. Selain langsung menawarkan barang dagangannya, biasanya mereka pula mencoba menggaet sebanyak mungkin anak buah.

Kalian pasti sudah paham, bukan?

Bagi yang gigih dalam berusaha, sudah pasti mereka mengunggah foto-foto barang dagangan mereka di Facebook. Jadilah itu timelineΒ penuh dengan foto-foto barang yang entah dari mana mereka dapatkan, hingga menjadi semacam etalase digital khas dunia maya. Kemudian bagi yang lebih gigih lagi mereka pergunakan pula layanan-layanan media maya lain yang dapat dipakai, misalnya Multiply dan Twitter.

Sampai sini kiranya sudah pahamkah kalian dengan arah pembicaraanku?

Aku ingin mengajak kalian untuk berpikir di luar kepala. Eh, maksudku berpikir di luar kotak. Kalau dalam istilah bahasa linggisnya disebut thinking outside the box.

Tidakkah kalian sadari bahwa bisnis yang mereka jalankan itu \bisnis jual-beli lewat internet\ adalah pasar yang besar bagi bisnis pengantaran barang dan ekspedisi? \Entah bagaimana pula bisa disebut ‘ekspedisi’. Apakah karena paket kita pergi berekspedisi ke tempat yang jauh, gitu?\

Mungkin aku bisa mencoba memulai bisnis jasa pengantaran paket ini dari kantor. Caranya untuk mengawali adalah dengan berjaga di meja lobi, menanti datangnya para kurir atau pak pos yang mengantarkan paket. Tentu saja mereka ini akan sering datang karena rekan-rekan kerjaku di sini gemar sekali berbelanja lewat internet.

Aku terima itu paket, lantas aku antarkan ke ruangan kerja masing-masing nama yang dituju. Tentu saja aku harus mendapatkan imbalan atas kerjaku ini. Namanya juga berbisnis, kan begitu?

Untuk mengawali, baiklah aku tidak akan meminta imbalan jasa berupa uang. Bolehlah dengan meminta makanan yang ada di ruangan mereka masing-masing. Bagaimana, Saudara? Ide brilian, bukan? πŸ˜€

4 pemikiran pada “Berpikir di Luar Kotak

  1. Siiip, ide brilian, Mas πŸ™‚
    tapi untuk memercayai sebuah toko daring juga gak mudah, apalagi yang mudah mengunggah foto-foto produk di facebook, masih dipertanyakan kebenarannya πŸ™‚

    Suka

    1. Betul sekali itu, Bung. Makanya, carilah orang yang terpercaya. Berdasarkan itu pula “mereka” dalam postinganku di atas berfalsafah. Dekatilah terlebih dahulu orang-orang terdekat, agar dapat menjangkau orang-orang yang jauh. πŸ˜€

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s