Memaafkan Keadilan

Adil menurut Islam adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Membuang sampah di trotoar termasuk perbuatan tidak adil. Memakai kaos kaki di lengan juga termasuk perbuatan tidak adil.

Berdasarkan konsep ini, tadi pagi aku mengalami sebuah ketidakadilan, Saudara. Bagaimana tidak? Aku datang menghampirinya lebih dahulu, tetapi si Bapak Tukang Bubur Ayam melayani seseorang yang datang setelahku. Okelah orang tersebut adalah pelanggan tetap si Bapak Tukang Bubur Ayam. Dia pula memesan bubur ayam lebih banyak. Tetapi, hei!, aku datang lebih dahulu daripadanya. Mengapakah aku tidak dilayaninya terlebih dahulu?

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapatkan pengalaman yang serupa. Adalah si Abang Tukang Nasi Goreng yang menempatkan aku tidak pada tempatnya. Aku datang ketika si Abang Tukang Nasi Goreng itu membuatkan dua porsi nasi goreng kepada seorang lelaki. Aku memesan satu bungkus nasi goreng dengan kepedasan pada tingkat satu, dan langsung duduk di kursi plastiknya. Aku ingat benar waktu itu memilih kursi yang berwarna merah, bukan yang hijau.

Ketika dua porsi nasi goreng tadi hendak dibungkus, datanglah seorang lelaki paruh baya. Ia memesan satu bungkus nasi goreng dengan kepedasan pada tingkat tiga, lalu duduk di samping kananku di atas kursi hijau. Ketika lelaki pertama yang memesan dua porsi nasi goreng tersebut selesai membayar, datanglah seorang perempuan berumur kisaran awal 30 tahun. Si perempuan ini memesan satu bungkus nasi goreng dengan kepedasan pada tingkat tiga. Setelah memesan, dia duduk di samping kiriku di atas kursi plastik berwarna merah.

Tak lama berselang dari waktu si Abang Tukang Nasi Goreng memanaskan wajan, datang lagi seorang lelaki muda berkumis tebal dan berkepala gundul. Ia memesan satu bungkus nasi goreng dengan kepedasan pada tingkat satu. Karena tidak ada kursi plastik yang tersisa, berdirilah ia di samping lelaki paruh baya yang datang sesudahku. Sementara itu si Abang Tukang Nasi Goreng memulai membuat empat porsi nasi goreng untuk kami berempat masing-masing.

Singkat cerita, yang mendapatkan bungkusan pertama adalah si perempuan 30-an tadi. Kemudian si lelaki paruh baya. Setelah itu si lelaki gundul berkumis tebal. Setelah mereka bertiga pergi demi mendapati meja makannya masing-masing untuk bersantap nasi goreng, barulah aku mendapatkan bungkusan nasi goreng pesananku.

Waktu itu hatiku dongkol bukan main. Lebih-lebih karena si Abang Tukang Nasi Goreng tidak menyatakan apapun sebagai tanda kesalahannya. Artinya dia tidak merasa bersalah dalam perkara ini. Pagi tadi hatiku pun demikian dongkol. Bisa-bisanya si Bapak Tukang Bubur Ayam tidak menyiapkan buburku terlebih dahulu.

Sampai sekarang aku tidak pernah lagi membeli makanan di tempat Abang Tukang Nasi Goreng itu. Masih trauma aku dengan ketidakadilan yang ditimpakannya atasku. Bisa jadi aku masih dongkol dengannya. Sedangkan kepada si Bapak Tukang Bubur Ayam, kedongkolanku sudah mulai menghilang. Apa sebab? Ketika memberikan bungkusan bubur ayamku, si Bapak dengan ramah mengucapkan, “Maaf ya, Mas, lama sedikit.”

7 pemikiran pada “Memaafkan Keadilan

  1. aku pun sebisa mungkin adil dalam melayani pembeli jasa di tempatku, biasanya anak kecil yg suka nyela-nyela ‘sabar ya dek, antri, nek ra gelem, tak tak kethak kowe’ :p

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s