My Country, Right Or Wrong

Sekilat aku ingat apa yang pernah dikatakan oleh guru Sejarah waktu SMA dulu tatkala bercerita mengenai imperialisme Barat. “Orang Barat sana,” begitu kata beliau, “selalu berpegang teguh pada prinsip ‘right or wrong is my country‘ dan itulah semangat nasionalisme yang membuat mereka kuat dan tak terkalahkan.”

Hari ini kebanggaanku akan negeri ini dan semangat kebangsaanku sedikit terkecewakan. Rupa-rupanya telah banyak pula orang-orang kita yang berkoar-koar tentang jeleknya negeri kita ini di luar negeri. Mereka berkata negeri kita negeri koruptor, lah; negeri kita sarang penyamun, lah.

Kita semua memang tahu di negeri kita masih banyak koruptor. Di negeri kita memang banyak penyamun hidup. Para wakil rakyat masih banyak yang tidak/kurang peka dengan keprihatinan rakyat yang diwakilinya. Memang tidak ada salahnya mengabarkan suatu kebenaran. Akan tetapi aku tidak setuju dengan kecenderungan menjelek-jelekkan. Tidak, di hadapan negeri lain.

Aku sepakat dengan apa yang pernah diucapkan oleh Carl Christian Schurz:

My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right.”

Inilah negeri kita, benar atau salah. Jika benar, tetapkanlah ia selalu benar. Jika salah, ubahlah ia agar benar.

4 pemikiran pada “My Country, Right Or Wrong

  1. ya mungkin ada yang menjelek-jelekkan, tapi fakta memang harus dijelaskan/tidak boleh ditutupi.
    Misalnya muridku yang wanita banyak yang menikah dengan orang Bali, dan tidak berhasil, cerai atau bahkan mengalami masalah keuangan (diporotin). Memang tidak semua, tapi merupakan kewajiban aku sebagai gurunya, untuk memperingatkan murid wanita, agar berhati-hati supaya jangan menjadi korban lagi. Masalahnya orang Jepang itu memang mudah dikibuli (tidak biasa dengan mulit manis lelaki).

    Suka

    1. Setuju, Bu. Fakta yang semacam itu memang jangan ditutup-tutupi, apalagi jika dilakukan sebagai pembelajaran yang lain. 😀

      Dari beberapa dorama maupun film Jepang saya mendapat pencitraan bahwa wanita Jepang memang begitu, ya Bu. Gampang dikibuli. Gampang diporotin. Lebih-lebih dari beberapa dorama yang pernah saya tonton itu, wanita rela “menghidupi” pasangannya yang bahkan lebih muda usianya. Apa benar di sana banyak begitu, ya? 😀

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s