Bahasa Semua Bangsa

Akhirnya kulanjutkan kembali membaca Anak Semua Bangsa buah karya Pramoedya Ananta Toer. Setelah kubaca halaman demi halaman, kubalik lembar demi lembar, otakku terpancang pada perkara bahasa.

Kubaca di situ betapa Jean Marais sangat menganjurkan Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, yang dikatakannya sebagai bahasa bangsa Minke sendiri. Kemudian datang pula Kommer kepada Minke yang juga menganjurkan hal yang sama. Mereka sama-sama berdalih betapa bahasa Belanda hanya dimengerti oleh kelompok tertentu, tetapi bahasa Melayu dimengerti oleh bangsa Pribumi. Minke, bagaimanapun, haruslah berbicara kepada bangsanya sendiri yang tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti khalayak ramai. Dalam lain kesempatan, Bunda malah menyuruh Minke menulis dalam bahasa Jawa, bahasa leluhurnya sendiri yang harus pula dilestarikan dan dijunjung tinggi.

Perkara berbahasa ini telah lama menggelitik pikiranku. Betapa telah lama kusaksikan banyak orang Indonesia lebih dapat mencurahkan perasaan dan mencetuskan pikirannya dengan bahasa asing. Bukan dengan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerahnya. Untuk sekadar menyerapah saja misalnya, alih-alih menggunakan kata ‘*ucing’ atau ‘*angsat’, sekarang orang-orang menggunakan kata ‘*hit’ atau ‘*uck’. Banyak pula yang masih latah menggunakan kata ‘*erdomme’.

Latar belakang pendidikan sepertinya memang memegang pengaruh besar. Betapa tidak? Minke yang adalah seorang lulusan HBS dalam sebagian besar waktunya diajarkan membaca dan menulis dalam bahasa Belanda, tidak bahasa Jawa. Wajarlah jikalau ia hanya bisa menulis dalam bahasa Belanda, tidak dalam bahasa Jawa yang adalah bahasa leluhurnya sendiri itu. Orang-orang yang menyerapah menggunakan kata ‘*hit’ dan ‘*uck’ tadi, dalam waktu-waktu penting perkembangan kecerdasannya diajarkan untuk menyerapah dalam bahasa linggis. Maka wajar saja jikalau kata-kata umpatan atau serapahan pribumi menjadi kurang laku belakangan ini.

Aku sendiri tidak/belum pernah pergi ke luar negeri. Jadi sedikit wajar jikalau aku tidak bisa berbicara dengan bahasa luar negeri yang disebut bahasa linggis itu. Tapi bukan itu yang ingin aku tekankan dalam tulisan ini. Anggaplah saja ketika menulis baris ini aku sedang meracau.

Bahwa dalam memadahkan sesuatu secara lisan adalah sedikit berbeda dengan menumpahkan gagasan secara tulisan, aku yakin sedikit dari kalian yang mengerti arti kata ‘memadahkan’. Kan begitu?

Bahkan aku yang sejak kecil berbahasa Jawa pesisir, akan menemui kesulitan jikalau harus menulis menggunakan bahasa itu. Alah bisa karena biasa, mungkin peribahasa inilah yang berlaku. Atau mungkin juga terdapat peranan ilmu pengetahuan di situ. Ilmu tentang bahasa Jawa yang kudapatkan di SD sampai dengan SMP sangat tidak memadai untuk menjadikanku sekadar bisa (apalagi pandai) mengarang menggunakan bahasa Jawa, pesisir pula.

Ada sepenggal tulisan yang patut kukutip dari Anak Semua Bangsa:

“Tak ada yang pernah mengatakan tak perlu. Tanpa mempelajari bahasa bangsa-bangsa lain, terutama Eropa, orang takkan mengenal bangsa-bangsa lain. Bahkan tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri,” jawab Kommer cepat seakan sudah dipersiapkannya lebih dahulu.

Jadi menurutku, mempelajari bahasa bangsa lain adalah perlu agar kita dapat mengenal bangsa-bangsa lain, agar kita menyerap ilmu pengetahuan dan beragam kelebihan bangsa-bangsa lain. Namun untuk berbicara dengan bangsa sendiri, bukankah alangkah lebih baik kalau menggunakan bahasa pribumi?

5 pemikiran pada “Bahasa Semua Bangsa

  1. Ketahuilah bahwa Jepang bisa maju seperti sekarang ya karena 2 hal:
    1. Banyaknya buku-buku tentang budaya luar yang diterjemahkan ke dalam
    bahasa Jepang, dan DIBACA! Pada jaman restorasi Meiji 1867.
    2. Banyaknya orang-orang Jepang yang ke luar negeri untuk mempelajari
    kebudayaan dan pengetahuan di luar, dan membawanya ke Jepang kembali.
    Kalaupun tidak kembali, dia akan menulisnya untuk dibagikan ke
    saudara-saudaranya di tanah airnya. Belum lagi dengan kesadaran untuk
    belajar yang tinggi, NHK banyak membuat film-film dokumentasi dari
    orang-orang yang berjaya di luar negeri.

    so? Belajar bahasa asing untuk transfer ilmu kepada bangsa sendiri, dalam bahasanya sendiri 😉

    Suka

    1. Nah, ini salah satu kehebatan bangsa Jepang yang saya kagumi, Bu. Pernah diceritakan oleh guru SMA, bahwa beliau punya kawan anak seorang profesor dari Jepang. Si profesor ini banyak meneliti dan menghasilkan banyak penemuan ilmiah, tetapi tidak bisa bahasa linggis (yang konon adalah bahasa yang paling banyak dipakai untuk di bidang ilmu pengetahuan) maupun bahasa asing lainnya. Katanya itu karena sudah banyak buku-buku referensi ilmiah yang berbahasa Jepang (baik terjemahan maupun karya orang Jepang sendiri). Inilah. Coba bahasa Indonesia dikembangkan ke arah bahasa ilmu pengetahuan. Dalam artian tentu banyak dilakukan alih bahasa maupun pencomotan istilah-istilah ilmiah asing untuk diindonesiakan. Kemudian disosialisasikan.

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s