Pujangga Picisan

“Ia lantas merebahkan tubuhnya di sampingku. Masih saja membungkam mulutnya tak mau bicara. Dalam dudukku, kuamati wajahnya. Ronanya meredup karena rupanya ia masih marah. Tapi entah mengapa dengan begitu ia semakin ayu. Pipi yang tadinya putih pualam kini memerah mawar. Bibir tipisnya kini bagaikan busur yang akan segera memelesatkan panah Arjuna. Ah, beginilah kalau wanita sedang terbakar api cemburu.”

Tidak/Belum Ada Judul oleh Farijs van Java

Nah, beginilah kalau pujangga picisan mendeskripsikan keindahan.

4 pemikiran pada “Pujangga Picisan

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s