Petualangan Tintin

Ahad kemarin itu aku menonton Tintin bersama para bapak yang mengajak serta anak-anak dan istri-istrinya. Bagiku, ini sangat menarik. Betapa para bapak ini menonton film tokoh idolanya semasa kecilnya dahulu, sembari menceritakan dengan antusiasnya segala hal mengenai kehebatan petualangan si Tintin bersama anjingnya Snowy (atau Milou).

Film The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn sejatinya telah kunantikan semenjak bulan kelima tahun ini. Betapa tidak, Tintin adalah satu dari dua tokoh komik kegemaranku semasa kecil. Tokoh yang satunya adalah Lucky Luke, seorang koboy. Mereka berdua langsung menjadi idolaku, meski aku hanya pernah membaca masing-masing satu judul komiknya. Dulu kukira kedua komik ini, Tintin dan Lucky Luke, berasal dari AS. Ternyata keduanya adalah karangan Belgia!

Baiklah. Kuceritakan sedikit mengenai film Tintin ini. Setelah melihat trailer-nya di YouTube dan membaca komiknya, aku tahu kalau ceritanya akan banyak berbeda. Salah satu yang membuat berbeda adalah bahwa di film dikisahkan bahwa Tintin dan Kapten Haddock untuk pertama kalinya bertemu dan berkenalan.

Sedikit catatan, komik yang terbitan baru ini (terbitan Gramedia) adalah terjemahan versi Prancis, berbeda versi dengan terbitan lama (terbitan Indira). Jadi yang terdapat di situ adalah Milo bukan Snowy, dan Dupont-Dupond bukan Thomson-Thompson.

Kisah petualangan bermula ketika Tintin membeli miniatur kapal kuno di sebuah pasar. Sesaat setelah dibeli, rupa-rupanya ada dua orang lainnya yang, secara terpisah, juga meminati miniatur tersebut. Tintin terang-terangan menolak masing-masing tawaran dari dua orang tersebut untuk menjual miniatur kapal kuno bernama Unicorn itu. Salah seorang dari si penawar ini memperingatkan Tintin untuk berhati-hati, karena akan ada sekumpulan orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan miniatur tersebut, termasuk melalui jalan kekerasan. Tentu saja jalan kekerasan yang dimaksudkan di sini adalah bukan jalanan berbatu, melainkan upaya memperoleh miniatur kapal dengan jalan bertindak kejahatan.

Dari sini, aku merasakan perbedaan cerita dengan yang ada di komik. Tapi itu tidaklah penting, toh komik dan film adalah dua makhluk yang berbeda.

Naluri kewartawanan Tintin pun menuntunnya untuk pergi ke perpustakaan mencari seluk beluk mengenai kapal Unicorn. Dari referensi yang ditemukannya, Tintin barulah tahu bahwa miniatur kapal yang baru-baru ini dibelinya tersebut dapat membawa jalan untuk menemukan harta karun.

Setelah terlibat dalam kejadian demi kejadian, yang tentu saja kalian yang ingin tahu harus menontonnya sendiri, Tintin dan anjing setianya berada dalam sebuah kapal yang lantas bertolak dari dermaga untuk menuju ke suatu tempat di muka bumi ini. Di kapal inilah kemudian mereka berdua bertemu dengan Kapten Haddock, yang tak lain tak bukan adalah kapten kapal tersebut.

Setelah terlibat baku tembak dengan para awak kapal Kapten Haddock, yang ternyata sudah tidak mematuhi kaptennya lagi, Tintin, Kapten Haddock, dan juga Snowy melarikan diri dari kapal dengan menggunakan sekoci penyelamat. Syahdan, tibalah mereka bertiga di sebuah gurun nan tandus. Setelah mengalami dehidrasi dan halusinasi, mereka pun kemudian ditolong oleh tentara lokal.

Di persinggahan tentara lokal ini, Kapten Haddock seakan kesurupan, menceritakan kisah kakek buyutnya \yang merupakan kapten dari kapal Unicorn yang miniaturnya tersebut membawa Tintin ke dalam petualangan ini\ tentang bagaimana kapal Unicorn yang membawa muatan harta benda diserang oleh bajak laut Rakham Merah.

Hatta, Tintin, Kapten Haddock, dan Snowy pun pergi ke sebuah rumah besar untuk menemukan (atau boleh dikatakan menyelamatkan) petunjuk selanjutnya. Di rumah inilah, sang diva opera, Bianca Castafiore, muncul. Lucu sekali penampakannya ini di sini. Oh, Madame Castafiore….

Lantas, bagaimana kisah selanjutnya? Apa pula peran dari seorang Bianca dalam “memecahkan” petunjuk selanjutnya menuju harta karun kapal Unicorn? Apa pula yang terjadi dengan si detektif kembar, Thomson dan Thompson? Bagaimana pula seorang Nestor berperan di sini?

Bagi para bapak yang menggemari kisah-kisah Tintin, film ini lumayan dapat mengobati rasa nostalgia akan masa kanak-kanak. Maka tunggu apa lagi, Saudara? Segerakanlah! 😀

10 pemikiran pada “Petualangan Tintin

    1. Kalau menurutku sih susah dibandingkan. Karena bukan hal yang sepadan. Bukan telur lawan telur. Tapi kalau boleh dibilang, sepertinya akan jauh lebih seru apabila beberapa hal dari ceritanya tidak terlalu menyimpang dari komiknya. 😀

      Saranku sih, jangan nonton yang 3D. Karena efek 3D-nya tidak sepadan dengan sakit kepala yang bakal kita derita. Kurang ada permainan efek buat yang nonton 3D gitu.

      Suka

  1. belum pernah baca tintin, belum pernah ada yg minjemin (jyan ora tau modal yo ngene ki)

    dulu cuma minjem2 donal bebek ma asterix ke tetangga…jadilah aku suka sama si asterix ini 🙂

    Suka

    1. Asterix malah dulu kagak ada sejangkauanku, Mbak (perpus sekolah, perpus daerah, apalagi tetangga). Yang Lucky Luke ama Tintin itu pun dapat dikasih pinjam sama kakak sepupu dari perpustakaan daerah.

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s