Dear Pahlawanku – Tanpamu

Sudah tiga tahun lamanya engkau membantuku…

Setiap datang pagi, datang pula engkau ke rumah. Langsung kau angkat keranjang penuh pakaian kotorku ke belakang. Setelah menyalakan pompa air, kau rendam pakaian-pakaian kotorku itu ke dalam ember-ember. Engkau pisah-pisahkan dahulu mana-mana yang sekiranya harus dipisahkan. Lalu kau campurkan deterjen ke dalam rendaman.

Engkau tidak menyia-nyiakan waktu menunggu rendaman cucian dengan berdiam diri. Maka kau sapu seluruh rumah. Halaman serta. Mengelap kaca-kaca jendela. Menyiram tanaman-tanaman dalam pot di halaman depan dan belakang rumah.

Kemudian kau tangani lagi rendaman cucian. Menyikat pakaian satu per satu. Dengan jeli kau cari noda-noda tanah yang sering menempel di celanaku. Atau noda-noda kopi, makanan, dan tinta pulpen di kemejaku. Dengan segala strategi kau berusaha menghilangkan noda. Dengan mengucek, menyikat, atau merendamnya lebih lama lagi.

Cucian pun engkau bilas untuk kemudian kau rendam lagi ke dalam larutan pelembut dan pengharum. Maka lagi-lagi tidak kau sia-siakan waktu menunggu rendaman. Engkau pun membersihkan toilet. Terkadang pula menguras bak mandi.

Barulah kemudian kau peras dan kibas-kibaskan satu per satu pakaianku. Engkau jemur semuanya di halaman belakang. Hingga berjejer di tali-tali jemuran.

Lantas kau pulang ke rumah. Atau kau pergi ke rumah sebelah untuk melakukan pekerjaan yang serupa. Atau kemudian pergi ke rumah sebelahnya lagi.

Sore hari kau datang lagi. Mengambil jemuran pakaian yang telah kering, lantas membawanya ke ruang tengah. Kau setrika. Hingga semua pakaianku licin dan rapi. Lantas kau lipat dengan saksama. Kemudian kau taruh lipatan pakaianku itu di atas lemari kecil di depan kamarku.

Ketika aku pulang, sering kali kau masih menyetrika. Dengan senyum dan ucapan ramah kau menyambutku. Aku pun membalas senyummu, sembari mengucapkan terima kasih. Ya, hanya kata itu yang terlontar. Tak mampu kuucapkan lebih, meski beribu-ribu terima kasih takkan mampu membayar kerja kerasmu.

Kini engkau telah pergi. Engkau pulang ke kampung halaman demi berkarya dan mengabdikan sisa hidupmu kepada tanah kelahiranmu. Sungguh itu adalah sebuah keputusan yang mulia. Maka aku pun merelakanmu pergi. Dan harus mencarikan penggantimu.

Terima kasih kuucapkan kepadamu. Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagiku, Ibu Cuci.

===

NB.
Atas saran dari Saudari Amela di Kota Semerbak, dengan ini aku nyatakan bahwa tulisan ini diikutkan dalam sebuah kontes.

“Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh LozzIyha dan Puteri

Sponsored by :

Blogcamp|LittleOstore|Tuptoday|Lozzcorner|Rumahtramoiey

30 pemikiran pada “Dear Pahlawanku – Tanpamu

    1. Iya. Yang akhirnya waktu itu gak bisa ikutan ke acara “Unduh Mantu”-nya keluarga Pak Bambang.

      Wah, mustinya aku ceritain tentang kejadian tragis itu, ya? Biar menang kontes. Haha. Mana tahu jurinya suka hal-hal yang dramatis, sedih, dan mengharukan. 😀

      Suka

  1. yups kadangkala kita melupakan sosok-sosok yang sering kita anggap biasa atau bahkan sepele dalam kehidupan kita, macam profesi petugas pintu air atau tukang cuci seperti di artikel ini.. Padahal jasa mereka begitu besar bagi kita dan layak juga untuk disebut pahlawan..

    Suka

    1. Bahkan kalau boleh dibilang (pemikiran ekstrem) koruptor pun dapat dikatakan sebagai pahlawan. Karena mereka membantu kita serta jasanya begitu besar dalam mempersatukan kita untuk bertekad memberantasnya. 😛

      Suka

  2. Mereka-mereka inilah yang sering terlupakan namun jasanya tak dapat dipandang sebelah mata…

    tanda terimakasih ini mengalir dengan jujur dan enak dibaca… 🙂

    -artikel sedang dinilai-

    Suka

    1. Betul sekali, Bu, eh, Mbak, eh, Ses, eh… 😀

      Yang berjasa itu tak hanya pahlawan nasional. Bahkan penjaga warteg langganan pun sangat berjasa pula bagi kita.

      Terima kasih. Selamat bertugas menilai. 🙂

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s