Merindukan Mas-Mas

“Jam berape, Om?”

Baru saja sopir angkot ini bertanya kepadaku.

“Ojek, Om?”

Seorang tukang ojek bertanya demikian kepadaku sekitar lima menit yang lalu tatkala menawariku tumpangan berbayar.

Entah sudah berapa kali aku dipanggil Om oleh orang-orang tak dikenal semacam itu. Sudah pernah pula kubahas dalam suatu postingan di blog semangat ini.

Tapi karena suasana sekarang ini lain, karena sudah mulai musim penghujan. Juga seiring dengan menyesaknya aroma bau kambing menusuk hidung. Maka aku tiada suka dipanggil Om semacam itu oleh orang tak dikenal sebagaimana contoh di atas.

Berbicara mengenai aroma bau kambing, kira-kira kambing-kambing yang sekarang jamak kita saksikan sedang memakan trotoar itu asalnya dari mana, ya? Kalau tidak menjelang lebaran haji seperti sekarang ini, tak ada seekor pun kambing berkeliaran di jalan semacam itu, bukan? \Kecuali mungkin Kampus Ali Wardhana tempo doeloe.\

6 pemikiran pada “Merindukan Mas-Mas

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s