Terkecoh Fabel

Fabel adalah cerita atau dongeng yang tokoh utamanya berupa binatang. Apabila cerita fabel kemudian diangkat ke layar lebar, maka tokoh utamanya tersebut dapat disebut sebagai binatang film.

Ketika kecil, banyak sekali kubaca cerita fabel ini. Entah dari majalah anak-anak milik perpustakaan sekolah, sobekan majalah lawas bekas bungkus kacang, maupun dari buku-buku lawas kepunyaan kakak-kakak sepupu. Ada pula dari dongengan ayahku yang memang pintar mendongeng dan suka mengarang dongeng sendiri itu.

Nah, salah satu yang paling favorit adalah kisah Kelinci Cilik yang kubaca dari buku lawas Pelajaran Berbahasa Indonesia milik kakak sepupu. Judulnya adalah Akal Si Kelinci Cilik, yang diambil oleh buku itu dari Majalah Bobo 12/XIII.

Akal Si Kelinci Cilik
Akal Si Kelinci Cilik

Fabel ini berkisah tentang seekor kelinci cilik yang karena tidak bisa membersihkan cerobong asapnya yang sudah kotor sekali lantas mengakali seekor serigala. Si serigala “ditipu” bahwa di cerobong asapnya yang kotor itu terdapat seekor ayam dan si kelinci cilik meminta bantuan untuk mengusir ayam tersebut.

Tergiur akan daging ayam panggang yang lezat, serigala segera menyanggupi untuk menangkap si ayam yang sebenarnya tidak ada. Si kelinci cilik sebenarnya menghendaki cerobong asapnya yang kotor itu dibersihkan secara tidak langsung oleh tubuh dan ekor lebat si serigala. Hatta serigala pun mengetahui siasat licik tersebut, maka marahlah dia. Namun si kelinci cilik yang diceritakan “cerdik” itu rupanya telah terlebih dahulu di balik semak.

Fabel tersebut sekilas menggambarkan betapa kepintaran akal dapat digunakan untuk membantu kita dalam kehidupan. Betapapun sebenarnya cerita itu telah pun secara tidak langsung mengajarkan–kalau tidak boleh dikatakan menjejalkan–kepada kanak-kanak–yang merupakan sasaran cerita fabel pada umumnya–untuk berlaku licik, berbohong, dan menipu.

Betapapun serigala selalu dijadikan sebagai tokoh yang jahat dan antagonis, tetapi seharusnya tindak pembohongan maupun penipuan tidaklah dapat dibenarkan untuk ditujukan kepadanya. Bahkan kepada siapapun.

Banyak cerita fabel semacam ini berkeliaran ketika aku masih kecil. Entah sekarang. Meskipun sebenarnya mungkin nenek moyang kita yang mengarang cerita-cerita fabel ini sebenarnya ingin mengajarkan bahwa betapa bagusnya akal pikiran kita diasah dan digunakan dalam kehidupan. Tetapi yang senyatanya akal pikiran tersebut digunakan kepada hal-hal yang jelek semisal berbohong tersebut, tentulah tidak dapat dibenarkan.

Bagaimana menurut Saudara sekalian?

6 pemikiran pada “Terkecoh Fabel

  1. Hmmm iya juga, ada benarnya juga pendapat Bang Drjt. Kisah itu secara tak langusng menampilkan kelicikan dan kebohongan. Namanya anak-anak, kalo disuguhi banyak cerita begitu, pasti dalam otaknya otomatis akan tertanam juga yang namanya menipi, berbohong, dan hal jelek lainnya. Bukan gak mungkin mereka (anak-anak) terapkan di dunia nyata kala mereka berhadapan dengan teman-teman sebaya. 😐

    Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s