I Don’t Wanna Be A TV Anymore

“Pemirsa… Benarkah Chikitta Willy menyukai seorang yatim piatu? Akankah kisah cinta mereka berakhir di pelaminan lantas kandas oleh vonis hakim pengadilan agama? Kita nantikan setelah jeda pariwara berik…”

Ceklik!

“I’m a mutant not gay..♪ I think God made a mistake..♫ But I’m an X-man baby I was born this way..♪ Come hide yourself in our school..♫ Iceman keeps it so cool..♪ We are the X-Men baby we were born this way..♫” (1)

Ceklik!

“…Oh, fantastik sekali, ya?”

“Betul sekali, Teh Ocha. Jadi pisau ini sungguh luar biasa, pemirsa. Sungguh multiguna; bisa untuk mengupas buah-buahan seperti tomat, bisa juga untuk memotong sayur seperti kentang, capcay, dan sebagainya, dan bahkan bisa digunakan untuk memotong urat nadi pergelangan tangan Anda! Yak, tunggu apa lagi? Pesan sekarang juga untuk mendapatkan penawaran ini, karena minggu depan harganya akan naik seb…”

Ceklik!

“Oh, Antonio. Jangan tinggalkan diriku…”

“Maaf, aku tidak bisa, Maria. Aku mencintai laki-laki lain.”

“Antonio, tidak…”

Ceklik!

“Aku ingin begini..♪ Aku ingin begitu..♫ Ingin ini ingin itu..♪ Nggak punya duit..♫” (2)

Ceklik!

===

Yah, beginilah aku sepanjang hari, menemani para majikan. Hampir tidak pernah aku bisa istirahat. Bahkan tengah malam pun, majikan berkumis itu sering memintaku menemaninya. Sekadar menonton kulit bundar yang disepak-sepak banyak orang di lapangan.

Setiap pagi, para majikan dengan santainya memandangku demi melihat siaran berita pagi. Kadang mereka semua sudah pergi, tapi aku tetap saja tidak diberinya istirahat. Tanpa ada yang memandangku, aku dibiarkan menyala seharian. Sampai akhirnya ada acara kesayangan majikan (yang rambutnya keriting panjang itu) tayang, maka bergegaslah ia menghampiriku.

Kalau siang datang, giliran majikan yang kecil itu yang menggunakanku. Dicoloknya aku agar supaya dia bisa bermain dengan mainan elektronik kotak itu. Kalau sudah begitu, bisa betah berjam-jam dia di depanku.

Kalau sudah mulai sore, giliran majikan kecilku yang satunya yang menggunakanku. Diusirnya dulu majikan kecil yang bermain mainan kotak itu, sampai ia benar-benar menguasaiku sepenuhnya. Sampai malam datang, si majikan masih saja duduk santai di sofa di hadapanku. Pegal aku lama kelamaan. Bahkan makan malam pun, tak jarang ia lakukan di sofa itu. Tentu saja matanya tak lepas memandangku.

Sering dalam kecapaian kulihat mesin cuci di pojok dapur sana, lalu terlintas begitu saja dalam pikiranku betapa senangnya menjadi mesin cuci yang hanya digunakan setiap pagi. Maka sisa harinya dapat digunakan untuk beristirahat. Oh, alangkah gembiranya mesin cuci itu.

Ah, ingin rasanya aku berteriak: Aku tak mau jadi televisi lagi!

Bibliografi:
(1) TheWarpZone – X-Men Born This Way (Lady Gaga Parody)
(2) Pak Bambang

Cerita lain:
Terebi Daisuki (1)
Terebi Daisuki (2)

14 pemikiran pada “I Don’t Wanna Be A TV Anymore

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s