Lagu Kanak-Kanak vs Lagu Kaplak-Kaplak

Tadi malam aku menonton acara Pas Mantap di televisi. Itu loh, yang pembawa acaranya Parto, Andre, dan Sule. Hadir sebagai salah satu bintang tamu, yang senantiasa awet tua, yakni Haddad Alwi.

Pemikiran berikut ini dipicu oleh pernyataan Abi Alwi di situ. Ketika ditanya mengapa lagunya sekarang diberi unsur rap, beliau menjawab hal itu agar anak-anak masa sekarang menyukai lagunya, menarik mereka dengan menganggap lagu tersebut “lagu gue banget” alias tiada ketinggalan zaman.

Aku menyimak dengan baik penjelasan Abi Alwi mengenai latar belakang inovasi dalam lagunya tersebut sembari sesekali menyesap teh hangat. Beliau mengisahkan betapa lagu-lagu dalam album seri Cinta Rasul-nya sepuluh tahunan yang lalu itu digemari anak-anak. Semua anak pada masa itu diklaimnya hapal segala lagunya, seperti lagu Ummy, Ya Thayyibah, dsb.

Anak-anak masa sekarang, malah hapalnya lagu-lagu cinta yang padahal mereka tiada paham mengenai materi itu. Maka begitulah, demi kembali menumbuhkan rasa cinta anak-anak akan Allah dan Rasul-Nya, berinovasilah Abi Alwi dengan menambahkan unsur rap dalam lagu barunya.

Betapapun kehangatan teh telah menjalar ke segenap tubuhku, aku mengingat-ingat masa kanak-kanakku sekitar sepuluh tahunan ke belakang. Maka aku ingat betapa sememangnya aku dan kawan-kawan pada masa itu masihlah anak-anak dan menggemari Sulis yang manis dengan segenap jiwa dan raga.

Memanglah teramat populer lagu-lagu Cinta Rasul-nya Haddad Alwi dahulu hingga kami semua hapal dan sering menyenandungkannya dengan penuh khidmat. Padahal bukankah semua lagu itu berbahasa Arab?

Manisnya teh yang kusesap membuatku dapat berpikir jernih betapa anak-anak pada masa sekarang teramatlah berbeda dengan anak-anak pada masaku dahulu. Mereka tak hanya “memaksa” Abi Alwi untuk menciptakan lagu-lagunya dalam bahasa Indonesia (daripada bahasa Arab seperti dahulu) melainkan mengharuskan beliau menambahkan unsur rap dalam lagunya agar supaya diterima.

Betapapun Sulis masihlah manis dan aku menjadi semakin ganteng, tidaklah membuatku merasa senang dengan perkembangan semacam itu. Maka aku pun bersepakat bahwa rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya haruslah ditumbuhkan dalam jiwa generasi-generasi penerus sejak dini.

Siapa yang cinta pada Nabi-Nya
Selalu bahagia dalam hidupnya

Haddad Alwi

4 pemikiran pada “Lagu Kanak-Kanak vs Lagu Kaplak-Kaplak

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s