Terebi Daisuki! (2-tamat)

Sambungan dari Terebi Daisuki!

Oh iya. Tuan kecil juga pernah. Waktu itu pagi-pagi sekali, bahkan nyonya belum bangun, tuan kecil mendatangiku. Dengan paksa ia jejalkan selimut Doraemonnya ke dalam perutku. Selimut berwarna biru muda itu bau sekali. Bau amonia!

Memang enak menjadi televisi. Dipandang dan disayang seluruh anggota keluarga. Jadi televisi berarti dapat menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Huh.

Pernah aku mencoba mencari perhatian dengan mengeluarkan suara yang tidak biasa. Atau sesekali mogok, tidak mau bekerja. Tapi perhatian apa yang kudapatkan? Nyonya malah menendangiku, menempelengiku. Berkali-kali. Membuatku sedih dan menangis sesenggukan.

Dengan keadaanku yang mengiba begitu, nyonya malah mendatangkan pria kekar yang sangat kasar itu. Tubuhku ditelanjanginya tanpa ampun. Dijamah-jamahnya tubuhku dengan beringas. Aku tak rela. Maka aku pun kembali bekerja, tidak mogok lagi, sambil terisak meratapi nasib.

Rasanya ingin mati saja. Sudah tidak kuat aku hidup tanpa kasih sayang, hanya berpunyakan derita. Maka aku minta tikus itu membunuhku. Aku akan mohon padanya untuk menggigiti ekorku.

Selamat tinggal, dunia yang kejam.

6 pemikiran pada “Terebi Daisuki! (2-tamat)

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s