Capai

Hari Jumat.
Seperti biasa di kantor sibuk seharian. Mondar-mandir ke kantor pusat, rapat ini rapat itu. Dalam sekali rapat sudah beberapa kali terlibat dan terjebak di tengah-tengah acara debat-mendebat dan bantah-berbantah. Jadilah dalam rapat hari ini kami dengan sukses mementahkan kembali hasil kesepakatan yang sudah dicapai setelah empat hari empat malam konsinyir di bogor.

Seperti biasa hari Jumat. Sore pulang kerja Jakarta macet sejadi-jadinya. Akhirnya magriban di jalan. Maksudnya di masjid di tepi jalan, dalam perjalanan pulang. Maka sampailah di rumah pukul delapan.

Biasanya kalau sudah capek, lelah, dan stres begini ketika disambut istriku, dijawabnya salamku dengan suara lemah lembutnya, diciumnya punggung tangan kananku, dikecupnya kedua pipiku dan juga keningku, maka segala capek-lelah dan stres itu akan sirna seketika. Tapi malam ini lain dari biasa, setelah seremoni penyambutan itu capek, lelah, dan stres itu tidak juga mau beranjak dari tubuhku.

Bahkan setelah kemudian aku meminum susu kambing yang disiapkan istriku sambil kedua kakiku dibasuhnya dengan air hangat dan diusapnya pelan-pelan dengan handuk. Bahkan setelah aku mandi lantas masuk ke kamar yang sudah berwangikan aroma terapi yang memang biasa disiapkan istriku demi melenturkan kepenatanku. Sama sekali capek dan lelah itu tidak musnah!

Aku segera menyadari telah terjadi sesuatu masalah dengan tubuhku. Tapi apa? Segala kebiasaan-kebiasaan itu seakan tidak berlaku. Tubuhku menuntut sesuatu yang lain.

Tingkat stresku hari ini tidaklah terlalu tinggi. Sudah sering kualami kejadian yang bahkan jauh lebih stres daripada hari ini. Tapi segala kestresanku, bagaimanapun tingkatannya, biasanya akan langsung sirna setelah kulihat istriku di depan pintu rumah menyambut kepulanganku.

Apalagi kalau cuma capek dan lelah seperti hari ini. Sudah sering aku pulang dengan kondisi kecapekan dan kelelahan yang jauh di atas hari ini. Bahkan pernah suatu kali nyaris pingsan di depan gerbang rumah. Tapi selalu saja penyambutan istriku, susu kambing yang disiapkannya, apalagi harum-haruman aroma terapi racikannya, sanggup mengusir pergi segala capek dan lelah di badan. Mengapa hari ini lain?

Aku berpikir keras mengenai ini. Apa yang salah, ada apakah gerangan denganku? Apakah aku sudah tidak mencintai istriku lagi? Apakah rasa sayangku berkurang? Atau apakah istriku yang justru sudah berkurang kasih sayangnya kepadaku, kepada suaminya yang bodoh dan pemalas ini?

Aku sudah memeriksa. Jangankan berkurang, rasa sayang dan cintaku kepada istriku justru semakin meningkat dari waktu ke waktu. Aku sangat mencintainya. Bahkan tatkala dua kali dia keguguran buah hati kami, makin cintalah aku dengannya.

Apakah itu berarti cinta istriku kepadaku yang berkurang? Hingga sambutannya, segala bentuk pelayanannya, entah bagaimana terasa tidak lagi berefek kepada diriku? Memikirkan hal ini membuat kepalaku terasa semakin pening dan berat.

Setelah mengenakan piyama kesayanganku seperti biasa, lantas aku ke ruang makan. Rupanya istriku berada di sana, sudah sedia menyiapkan hidangan santap malamku, berdiri di samping meja makan seraya memandangku dengan senyum. Aku berhenti melangkah; beku diperhatikan olehnya. Kupandang istriku, kutatap kedua belah matanya yang sejuk. Tak lama kemudian, hidungku menangkap sebuah ketidakberesan.

Aku menghidu udang goreng kesukaanku! Aromanya lezat sekali menusuk hidung. Maka sirnalah sudah stres, capek, lelah, penat, apapun itu namanya. Baru kuingat kalau seharian perut ini hanya kuisi dengan kopi, kopi, dan kopi, serta sebiji pisang goreng. Bekal yang dibuatkan istriku tidak kusentuh sama sekali.

Terima kasih, istriku. Engkau bukan hanya penyejuk hatiku, namun juga pemuas nafsu makanku. 😀

Bekal Berbentuk Kelinci
Bekal Berbentuk Kelinci

6 pemikiran pada “Capai

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s