Arok dan Dedes Khatam Riwayat

Alhamdulillah. Senang sekali. πŸ˜€
Di Sabtu siang berangin sepoi-sepoi ini akhirnya aku berhasil mengkhatamkan buku Arok Dedes buah karya Pramoedya Ananta Toer.

Seru sekali kubaca buku ini. Sudah berbulan-bulan, baru hari ini selesai. Memang berat. πŸ˜›

Sedikit kecewa karena dalam buku ini tidak dikisahkan mengenai keris legenda buatan Empu Gandring. Keris yang katanya akan membunuh nyawa tujuh orang itu tidak tersebutkan.

Kisah dalam buku ini berakhir tatkala Arok sudah berhasil menguasai Tumapel. Arok, yang menjadi Akuwu Tumapel yang baru, sedang bersembahyang di pura, mengucapkan puji syukur atas kemenangan yang diraihnya pada hari itu juga, dengan didampingi oleh dua paramesywarinya, Umang dan Dedes.

Siapakah Umang? Baru kutahu setelah kulihat bagan silsilah yang terlampir dalam buku, dia adalah ibunda dari Tohjaya.

Pada saat itu kedua-duanya sedang mengandung. Umang mengandung Tohjaya, buah cintanya dengan Arok, sedang Dedes mengandung benih dari Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang digulingkan. Anak yang dikandung Dedes itu tak lain tak bukan adalah Anusapati yang menurut buku pelajaran sejarah semasa SMP dulu adalah ia yang membunuh Arok menggunakan keris terkutuk buatan Empu Gandring.

Memang aku mendapati sedikit pemahaman berbeda setelah membaca buku ini dibandingkan sebelumnya. Di buku ini disebutkan bahwa Empu Gandring memimpin sebuah gerakan rahasia untuk menggulingkan akuwu yang berkuasa. Salah satu cara dia memenuhi cita-citanya tersebut dan lantas tampil sebagai penguasa Tumapel yang baru adalah dengan memperalat Kebo Ijo, satu-satunya orang berstrata Satria di Tumapel yang menjabat sebagai tamtama prajurit Tumapel.

Dari pemahamanku dulu, dari buku-buku sejarah semasa SMP itu, tidak disebutkan siapa sebenarnya Kebo Ijo itu. Empu Gandring pun hanya disebutkan bahwa dia adalah seorang pandai besi pembuat senjata dimana Arok memesan sebuah keris kepadanya.

Di buku Arok Dedes dikisahkan bahwa Arok memesan dibuatkan banyak senjata untuk para pasukannya kepada Empu Gandring. Namun Empu Gandring mangkir dari perjanjian itu dan malah menyembunyikan senjata-senjata yang sudah dibuatnya untuk nantinya akan dipakai oleh pasukannya sendiri.

Di buku hanya diceritakan bahwa Empu Gandring kemudian ditangkap oleh Arok dan pasukannya, sedang akhir riwayatnya tidak diceritakan. Sementara menurut buku-buku sejarah yang dulu kubaca, Empu Gandring mati di tangan Arok dengan menggunakan keris yang belum sepenuhnya jadi.

Berakhirnya riwayat Tunggul Ametung juga dikisahkan sedikit berbeda. Dari buku-buku sejarah yang kubaca dulu itu diceritakan bahwa Tunggul Ametung dibunuh oleh Arok menggunakan keris yang belum jadi buatan Empu Gandring itu. Keris itu lantas oleh Arok sengaja ditinggalkan di dekat mayat Tunggul Ametung. Karena keris itu sebelumnya dipinjamkan oleh Arok kepada Kebo Ijo dan orang-orang mengenal keris itu sebagai kepunyaan Kebo Ijo, maka dia kemudian yang dihukum mati atas pembunuhan tersebut.

Di buku Arok Dedes ini dikisahkan bahwa Kebo Ijo disaksikan orang-orang tengah memegang pedang berlumuran darah setelah memasuki kamar Tunggul Ametung yang kemudian ditemukan tewas. Kebo Ijo mengaku bahwa Tunggul Ametung telah mati sebelum dia membacok perutnya sebanyak satu kali.

Entah mana yang benar, pengisahan tokoh-tokoh sejarah masa lampau ini dalam buku Arok Dedes sungguh luar biasa. Pandai sekali Eyang Pram dalam bercerita dan mengolah kisah. Di penghujung buku dikisahkannya betapa Dedes tidak rela kekuasaannya sebagai paramesywari terdahulu dibagi kepada Arok dan istrinya, Umang, meski dia sendiri tetap dijadikan sebagai paramesywari.

Dedes tak suka pula ketika Arok menjalin hubungan akrab dengan pemeluk Wisynu, Buddha, dan agama lain, sementara dia menginginkan pemeluk Syiwa-lah yang seharusnya satu-satunya penguasa. Dedes pun mencemaskan nasib anaknya kelak, anaknya dengan Tunggul Ametung itu, karena mengetahui Umang juga tengah mengandung anaknya Arok.

Menyelesaikan Arok Dedes ini menarikku membaca kisah-kisah zaman kejayaan kerajaan di Jawa yang lain. Setelah Nagabumi yang berlatar pada zaman dibangunnya Candi Borobudur, kemudian Arok Dedes ini, giliran selanjutnya adalah Gajah Mada! πŸ˜€

9 pemikiran pada “Arok dan Dedes Khatam Riwayat

  1. Saya belum baca buku versi PAT ini..kayaknya menarik.
    Setiap buku sejarah sebetulnya bisa di eksplore agar lebih menarik dan tidak membosankan, PAT merupakan salah satu penulis yang lihai dalam hal ini.

    Suka

    1. Betul, Bu. Dan perlu dicatat, buku tersebut memang hanyalah sebuah karangan, pasti ada pembalutan fiksinya. Sesuai imajinasi pengarang tentunya.

      Bagus banget kok, Bu. Membuat hari-hari menyeruput di warung kopi terasa demikian indah. Hwehe. πŸ˜€

      Suka

  2. Ini bukannya awal dari tetralogi (atau trilogi ?) ya?
    Saya juga mandek baca buku ini. Baru sampe Arok mulai enikung Tunggul Ametung, merebut penambangan emasnya. Nanti pas luang lah..

    Suka

    1. Yang mana yang awal tetralogi/trilogi? Kalau yang Gajah Mada, memang banyak serinya. Kalau yang Arok Dedes keknya cuma satu, deh. πŸ˜€

      Sedikit-sedikit bisa mengerti bahasa di buku itu. Jadi menikmati. Lanjutkan saja. Seru! πŸ˜€

      Suka

  3. Mpu Gandring sebagai ahli yang cukup sakti telah meramalkan bahwa Kendedes akan melahirkan para pemimpin Nusantara (entah apa dia mempelajari ilmu statistik dimana Wangsa ini ke lanjutan Wangsa Syailendra yg sering berkuasa). Tentunya Beliau ingin menjadi nenek moyang pemimpin Nusantara, tapi Hal ini beliau ceritakan juga pada kawannya Ken Arok yg dia kenal lewat rumah judi ayah angkat Ken Arok, tentunya dia kepengin juga donk, bahkan bodonya Mpu Gandring membantu Ken Arok menjadi pengawal sebagai salah satu rencana, Dan mengkambing hitamkan Kebo Ijo. Mpu Gandring cucu Brahmana Wisesa dari India, ketrunannya para warga Pande di Bali. Ada website dan buku yang mengklaim bahwa ke-7 Presiden Indonesia keturunan Sunan Giri, putra Brawijaya VI Raja Majapahit, dimana kelanjutan dari Singasari, nah berartikan keturunan Kendedes

    Suka

    1. Iya, pernah dengar cerita dan rumor mengenai itu. Sepanjang bisa dibuktikan secara ilmiah, tidak asal sekadar berdasarkan ramalan, tak ada salahnya toh? πŸ˜€

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s