Pisau Cuat

Tengah malam bulan purnama.
Angin bertiup kencang ke arah pekuburan Cina, menjadikan awan mendung hitam berkumpul memenuhi langit nan pekat di atasnya. Lolongan serigala tak lagi terdengar. Barangkali para serigala itu sedang berteduh di dalam gua-gua hangat mereka, bersembunyi dari hujan yang akan segera tiba.

Di tepi pekuburan terdapat sebuah rumah tua peninggalan Belanda. Rumah itu tidak terlalu kecil tetapi juga tidak terlalu besar. Pada halaman rumah hanya tertanam sebuah pohon jambu besar dan semak-semak beluntas yang berfungsi sekaligus sebagai pagar.

Tikus-tikus penghuni loteng berlarian ke sana kemari membuat kegaduhan. Itulah satu-satunya bebunyian yang terdengar di rumah tua selain detak jarum jam kuna di ruang tengah.

Semua manusia penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya di kamar masing-masing, kecuali seorang gadis belia 15 tahun berambut panjang. Gadis itu berjalan perlahan menuju dapur setelah keluar dari kamarnya di lantai bawah.

Suara semak-semak tertiup angin sesekali merasuk masuk ke dalam rumah melalui celah bawah pintu depan. Bersama dengan itu terbawa juga semilir angin malam nan dingin beraromakan bunga kamboja.

Terdengar suara langkah kaki menghentak tangga kayu secara perlahan-lahan. Rupanya setelah mengambil sesuatu dari dapur gadis tadi kemudian menuju ke lantai atas. Suara hentakan kayu berganti menjadi suara decitan akibat gesekan sandal dengan lantai pualam.

Pintu sebuah kamar berderik karena dibuka oleh si gadis yang mengenakan piyama merah. Perlahan-lahan ia berjalan terseret memasuki kamar hingga sampailah ia di tepi dipan.

Di atas dipan itu berbaringlah seorang anak laki-laki 16 tahun, terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Hembusan nafasnya terdengar teratur sementara wajahnya mengekspresikan kedamaian. Melihat pancaran kedamaian itu si gadis tersenyum hingga terlihatlah dekik pada pipinya yang putih kemerah-merahan, menghias manis di wajah ayunya.

Si gadis menyibak selimut yang menyelubungi tubuh anak laki-laki itu hingga terlindung dalam kehangatan. Maka dinginnya malam yang menembus ke dalam kamar dapat langsung menerpa tubuhnya.

Si gadis menggenggam kuat-kuat apa yang dibawanya dari dapur dengan kedua belah tangan. Dihunjamkannya benda itu dengan keras menuju dada si anak laki-laki hingga tertancap.

Aaaaaaaarrrrggh!

Teriakan anak laki-laki itu terdengar meraung-raung, membangunkan segala penghuni rumah. Maka dengan segera kamar itu dipenuhi oleh banyak orang, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan juga dewasa.

Terlihat darah merah segar berhamburan di atas dipan. Karpet lantai kamar berwarna putih pun sedikit ternoda dengan warna merah, warna piyama yang dipakai oleh gadis yang sekarang tergeletak tak sadarkan diri, dan juga warna darah.

6 pemikiran pada “Pisau Cuat

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s