Warung Pinggir Jalan dan Setahun Sayangku Untukmu

Ternyata sudah diputuskan bahwa Senin besok itu menjadi cuti yang dipaksakan bersama alias libur resmi. Entah mengapa keputusan meliburkan ini tergolong mendadak alias seperti terburu-buru kalau tidak boleh dikatakan darurat.

Sebagai seorang pegawai rendahan sudah pasti aku harus menurut dan rela seikhlas-ikhlasnya manakala jatah cuti yang tersisa menjadi terenggut oleh adanya cuti bersama tambahan ini.

Waktu yang tepat untuk pulang kampung sebenarnya. Sudah rindu pula aku berkumpul dengan keluarga besar di sana. Terlebih-lebih masakan ibunda. Pun seorang saudara muda perempuanku di sana sedang sangat membutuhkan bantuanku untuk memilihkan kira-kira kandidat mana yang tepat untuk dijadikan suaminya.

Bagaimana bisa aku memutuskan? Lha wong aku sendiri saja belum menikah, belum punya pengamalan. Tapi kehadiranku sepertinya akan semakin membuatnya tegar dan tidak lagi tenggelam dalam kolam kegalauan.

Sekarang aku sedang menjalankan ritual makan siang di sebuah warung pinggir jalan. Di hadapanku terdapat belasan anak kecil bermain perosotan dan berlari-lari riang. Tampak beberapa ibu yang cantik (mmm) sedang menyuapi anaknya masing-masing dan sesekali berteriak agar anaknya itu tidak berlarian.

Meski belum tentu tergolong sebagai pasangan homoseksual, dua orang pemuda di samping kiriku kelihatan mesra. Pemuda yang satu dengan lembutnya menyeka tepian mulut pemuda yang lain sehingga sebutir nasi yang tadinya menempel di situ lantas berpindah menempel di selampai.

Aduh! Tiba-tiba saja seorang bocah kecil laki-laki yang botak kepalanya masuk ke dalam kolong mejaku. Rupanya sedang bermain petak umpet dia dengan ayahnya. Ayahnya yang mengenakan arloji asli buatan Swis itu lantas menangkapnya untuk kemudian menggendongnya, membawanya kepada ibunya yang sedang memegang sendok dan piring.

Tadi malam kudengarkan radio di gelombang yang sama seperti dua pekan lalu. Mereka memutarkan lagu-lagunya Koes Plus dan Koes Bersaudara yang judulnya berawalan dengan huruf S. Maka alangkah gembiranya hatiku tatkala dari earphone Kak Ria kudengarkan irama-irama melagukan sebuah lagu dari album Koes Bersaudara 1986, persis seperti album yang dimiliki ayahku.

Koes Bersaudara
Sayangku Untukmu

Betapa bunga indah tersenyum manja padaku
Tapi cintamu terlebih anggun dalam jiwaku

Walaupun bintang bersinar terang di langit tinggi
Tak akan mungkin mengganti dirimu, oh
Sayangku untukmu

Andaikan nanti badai menerjang kejam dan keji
Melanda sedih taman dan bunga berkali-kali

Tak urung nanti reda menjelang damai dan tenang
Kembali pasti cintaku cintamu, oh
Bersemi abadi

Lagu ini lantas menginspirasiku. Ketika kuketikkan tulisan ini, tak henti-hentinya aku menyenandungkan lagu ini:

Setahun Untukmu

Purnama indah di langit malam datang dan pergi
Sudah kemarau musim penghujan kemarau lagi

Walaupun hujan turun di langit kemarau ini
Bunga kamboja ‘kan tetap bersemi, oh
Di dalam hatiku

Setahun ini kau t’lah mengisi hari yang sepi
Kasih sayangmu bagaikan harum bunga melati

Andaikan nanti kita melangkah ke jenjang tinggi
Tak ada sesal kau di sampingku, oh
Sayangku untukmu

8 pemikiran pada “Warung Pinggir Jalan dan Setahun Sayangku Untukmu

  1. Kantor saya tidak ikut cuti bersama. Kalau mau cuti ya silahkan, akan dipotong cuti tahunan, tapi kami tetap masuk seperti biasa. Pemalas banget memang pemerintah ini, dikit-dikit maunya libur. Huh.
    Selamat ya untuk setahun bersama si kekasih di blog sebelah :)….

    Suka

    1. Blog sebelah? Loh, blog kok cuma sebelah? πŸ˜€

      Terima kasih, Bu. Iya nih. Tapi sih bisa jadi untuk menggairahkan sektor pariwisata dalam negeri, Bu. Awas saja kalau malah para pejabat itu pelesirannya malah ke luar negeri. πŸ˜€

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s