Donat

Bunder-bunder bolong tengahe
Namanya kue donat
Lonjong-lonjong akeh isine
Namanya itu lemper

Joshua

Haha. Satu lagi lagu anak-anak dari Joshua.

Pukul 10 lewat pada pagi hari. Pada saat itu aku sedang duduk di kursi cokelat yang bisa berputar-putar pada lantai dua sebuah toko donat. Lebih tepatnya lagi di samping jendela; hingga dapat kulihat atap-atap rumah penduduk yang berada di belakang toko donat ini.

Kulihat pula langit mendung sedang membayangi, setelah tadi sempat menurunkan titik-titik gerimis meskipun barang sejenak.

Kuputarkan kursiku, maka kulihat dua potong donat yang sudah tidak berbentuk donat (karena sudah terbelah-belah) di atas sebuah piring putih di samping cangkir putih berisikan cairan hitam tanpa gelembung yang biasa disebut kopi hitam panas. Cangkir itu terletak di atas sebuah piring kecil berwarna putih pula. Sementara di bawah piring-piring itu tergeletak sepapan nampan berwarna jingga; kontras sekali dengan makhluk-makhluk putih di atasnya.

Kuputarkan kembali kursiku demi melihat seekor burung gereja mengejar pasangannya yang sudah melesat begitu cepat terbang ke arah sebuah pohon besar. Kutahu pohon itu tertanam di halaman sebuah gereja. Maka pantaslah burung itu kusebut burung gereja.

Blog ini sepertinya ingin kuubah namanya. Entahlah. Sepertinya memang harus begitu.

Belakangan ini aku merasa tidak lagi sebagai penyebar semangat. Hanya coba-coba. Karena sering aku sendiri malah tidak bersemangat. Selalu mengeluh dan melenguh, meskipun aku tahu aku bukanlah seekor sapi.

Aku masih ingin mencoba menyebarkan semangat. Mungkin nanti. Mungkin sebentar lagi. Semoga semangatku banyak kembali. Semakin banyak. Hingga tak ragu aku untuk menyebarkannya. Secara cuma-cuma. Bagi siapa saja. Yang menginginkannya. Termasuk kalian tentu saja.

Oke. Sekarang aku harus menyeruput kopi hitam yang sudah menurun tingkat kepanasannya. Barangkali setelah itu kupotong donat yang cokelat dengan garpu. Lantas menusuk potongan itu dengan garpu yang sama. Lantas dengan kecepatan yang tidak dapat disaksikan oleh mata manusia awam kumasukkan potongan itu ke dalam mulutku. Kukunyah-kunyah hingga ususku turut menikmati kelezatan donat ini. Sekian.

10 pemikiran pada “Donat

    1. Sekarang pun saya lebih suka Dunkin’ Donuts daripada J-co. J-co cuma suka fro-yo-nya. Lagipula J-co terlalu ramai, tidak bisa dijadikan tempat untuk menyepi. Hoho. Padahal sih karena J-co jauh dari sini. 😀

      Suka

  1. Donut..bayangan di kepalaku J.Co..seperti komentar Asop di atas.

    Coba-coba? Boleh aja kok, kan bebas menuliskan apa saja di blog, sepanjang dimaksudkan untuk kebaikan.

    Suka

    1. Hoho. Memang Dunkin’ sudah semakin tersingkir ama J-co. Tapi tetap saja, di sini Dunkin’ tetap ramai, kok. Konsepnya juga sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Bagi saya mah, yang penting ada koneksi internetnya. Hwehe. 😀

      Iya, Bu. Saya berusaha mengurangi hal-hal negatif dalam blog ini, agar supaya dalam diri pribadi saya hal-hal negatif tersebut semakin berkurang pula. Terima kasih. 😀

      Suka

  2. Kalau saya makan donat, ga pake potong2 dulu. Langsung saja pegang pakai tisu dan digigit. Memang begitu kan cara makan donat. Ya ga ya ga 🙂 ?

    Suka

    1. Apapun cara makannya, minumnya air, Bu. Hwehe. 😀

      Kalau saya seperti itu cara makannya, harus pakai dua tangan, Bu. Kek anak kecil yak? (doh) Padahal tangan yang satu harus memegang iRhyme. Jadilah makan pakai garpu. Yang penting dimasukkan ke mulut, lantas dikunyah. Hwehe. 😀

      Suka

  3. Jadi syarat yang menentukan tempat makan yang “enak” sekarang adalah koneksi internet, dan nyaman untuk didiami berjam-jam ya? Texas fried Chicken then :mrgreen:

    Suka

    1. Texas? Wah, di sini susah nemu TFC. Oh iya, ternyata KFC di dekat sini ada wi-fi internet gratisnya. Baru tahu juga aku. Duh, menyesal baru tahu.

      Kalau di KFC di situ ramai sekali. Banyak anak kecil berkeliaran. Tidak cocok digunakan sebagai tempat menyepi dan menyendiri. Tapi cocok sekali bagi para paedofilia. Haha! 😀

      Syaratnya ditambah lagi: ketersediaan toilet! Biar makin bisa didiami lama-lama. Hwehe.

      Suka

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s