Sepi

Duduk seorang diri di sebuah toko donat. Ah, kok tiba-tiba jadi sepi?

Pas sekali, karena sekarang aku sedang membaca bukunya Happy Salma dan Pidi Baiq “Hanya Salju dan Pisau Batu” tepat pada halaman 98. Haha.

SEPI: PIDI BAIQ

Ada yang ingin dirinya berada di tempat yang sepi, salah satunya tentu saja adalah maling. Bagi maling keadaan dan situasi yang sepi adalah justru emas. Adalah kesempatan untuk menunaikan niat jahatnya. Selain maling, ada lagi yang ingin dirinya berada di tempat sepi, yaitu dua orang yang sedang berpacaran […]. Selain itu ada lagi, yaitu orang yang melakukan tapa. […]

Di tempat sepi, maling justru tidak pernah merasa kesepian. Di tempat sepi, dua orang yang berpacaran justru tidak merasa kesepian. Di tempat yang sepi, yang tapa justru mendapati gairah diri yang menggelora, dia tidak merasa kesepian. Di tempat yang sepi, seekor undur-undur justru mendapati dirinya begitu nyaman, dia tidak merasa kesepian. […]

Tidak pernah merasa kesepian di tempat yang sepi, disebabkan oleh karena mereka menikmati dan menghendaki saat-saat seperti itu, sebagai suatu keadaan yang justru menyenangkannya. […] Karena yang tapa malah berharap tak ada orang yang mengganggu konsentrasinya.

Saya sendiri juga ada saatnya suka di tempat yang sepi, salah satunya kalau sedang buang air besar di toilet, tetapi bukan untuk mendapati diri merasa kesepian. Kalau cuma mau merasa kesepian, sih, tidak harus berada di tempat yang sepi. Di tengah keramaian juga bisa, […], syaratnya gampang, yaitu harus mau merasa sedang dijauhkan dari orang-orang yang selalu memperhatikan, yaitu orang-orang yang sedang tidak bersamamu dan jauh, di tempat lain yang berbeda, tidak kumpul bersama-sama denganmu. […] Syarat lainnya, yaitu harus merasa terkucil, harus merasa tersisih, padahal biasanya tidak. […] Harus merasa diabaikan.

Seorang maling sampai kapan pun tidak akan merasa kesepian selama dia berani mengambil keputusan memanfaatkan keadaan. Itu sama dengan ketika saya berada di dalam toilet sendirian, menjadi tidak merasa kesepian ketika fokus pada apa yang sedang saya lampiaskan.

[…]

HANYA SALJU DAN PISAU BATU, halaman 98-99.

Entah mengapa tulisan ini seperti ingin menasihatiku. Haruskah aku ternasihati?

Aku sedang merasa sepi. Aku sedang ingin merasakan kesepian.

Sampai jumpa, hari-hari yang ceria.

2 pemikiran pada “Sepi

Silakan berkomentar sesuka hati

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s